Parosil Puji Kinerja Polisi Batam Ungkap Kematian Dwi

Selasa 02-12-2025,16:03 WIB
Reporter : Rinto Arius
Editor : Budi Setiawan

Mulai dari pemberian minuman beralkohol hingga obat-obatan, tekanan tersebut membuat kondisi fisik korban kian memburuk.

Siksaan terhadap Dwi terjadi dalam tiga hari berturut-turut. Pada 25 November 2025, Anik membuat rekaman palsu seolah korban mencoba mencekiknya. 

Video tersebut ditunjukkan kepada Wilson melalui Putri dan Salmiati. Tidak mengetahui bahwa video itu rekayasa, Wilson marah dan memulai aksi kekerasan.

Korban dipukul dengan tangan dan kaki, dicambuk menggunakan sapu lidi, serta mengalami benturan keras pada kepala dan tubuh. 

BACA JUGA:Ditengah Keterbatasan, SMP 1 Atap Batu Brak Persembahkan Juara Nasional untuk Lampung Barat

Pada 26 November dini hari, Wilson kembali melakukan kekerasan dengan memukul korban memakai kayu bulat serta menghantamkan tubuh korban ke tembok dan dipan.

Puncak penyiksaan terjadi pada 27 November 2025. Korban diborgol, mulutnya dilakban, dan tubuhnya disemprot air selama berjam-jam hingga menyebabkan sesak dan kondisi kritis. 

Putri dan Salmiati turut berjaga agar korban tidak kabur serta membantu menyiapkan alat penyiksaan.

Pada 28 November 2025 sekitar pukul 13.00 WIB, korban tidak lagi bergerak. Wilson memanggil seorang bidan dalam keadaan panik, namun nyawa korban tidak terselamatkan. 

BACA JUGA:PMK 81/2025 Sebabkan Dana Desa Tak Cair, DPRD Lambar Siap Bawa Aspirasi Peratin ke Pusat

Para tersangka kemudian berupaya menutupi perbuatan mereka dengan melepas sejumlah CCTV dan membawa jenazah ke RS Elizabeth Sagulung dengan dalih korban tidak dikenal.

Kecurigaan pihak keamanan rumah sakit membuat kasus ini cepat dilaporkan kepada polisi. Dalam waktu singkat, penyidik berhasil mengamankan keempat pelaku.

Wilson menjadi eksekutor utama penyiksaan, memerintahkan pembelian lakban, memborgol korban, menyiramkan air ke hidung korban, serta memutus rekaman CCTV. 

Anik merupakan pencetus rekaman palsu dan penyedia dana untuk keperluan para pelaku. Putri dan Salmiati membantu menjaga korban, mempersiapkan alat, membeli perlengkapan, serta melepas CCTV.

BACA JUGA:Jam Pintar untuk Aktivitas Olahraga Tahun 2025, Mulai Rp 700 Ribuan

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan jejak kekerasan masif. Rongga dada korban dipenuhi campuran darah dan air, sedangkan paru-paru berisi cairan yang masuk ketika korban masih bernapas. Tidak ditemukan tanda kekerasan seksual.

Kategori :