Ketoprak: Seni Pertunjukan Rakyat dari Solo yang Lahir dari Perjuangan
ketoprak tetap bertahan sebagai bagian penting dari khazanah budaya Jawa. Foto:Instagram@jogjapedesaan--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Ketoprak merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa yang tumbuh dan berkembang di wilayah Surakarta dan sekitarnya.
Kesenian ini sering disebut sebagai “operanya orang Jawa” karena memadukan dialog, tembang, musik gamelan, serta akting dalam satu panggung pertunjukan.
Tidak sekadar hiburan, ketoprak menyimpan sejarah panjang sebagai media perjuangan dan ekspresi rakyat pada masa penjajahan.
Kemunculan ketoprak diperkirakan terjadi pada awal abad ke-19. Pada masa itu, masyarakat pribumi berada dalam tekanan kekuasaan kolonial yang membatasi ruang gerak mereka, termasuk larangan berkumpul karena dianggap berpotensi menimbulkan perlawanan.
BACA JUGA:Reza Arap Jalani Pemeriksaan Intensif Terkait Kematian Lula Lahfah, Penyidik Ajukan 30 Pertanyaan
Dalam kondisi seperti inilah, seni pertunjukan menjadi jalan aman bagi rakyat untuk tetap bisa berkumpul tanpa menimbulkan kecurigaan.
Kelompok-kelompok kesenian dibentuk sebagai kedok, dan dari sanalah ketoprak mulai dikenal.
Awalnya, ketoprak tumbuh secara sederhana. Cerita yang dipentaskan tidak diambil dari kisah besar kerajaan atau epos kepahlawanan, melainkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Konflik yang ditampilkan dekat dengan realitas rakyat kecil: persoalan keluarga, ketidakadilan, kemiskinan, hingga sindiran terhadap penguasa. Justru kesederhanaan inilah yang membuat ketoprak mudah diterima oleh masyarakat luas.
BACA JUGA:Richard Lee Ajukan Praperadilan, Polda Metro Jaya Siap Hadapi Gugatan
Salah satu ciri khas utama ketoprak adalah tidak digunakannya naskah tertulis secara lengkap. Para pemain hanya diberi gambaran umum alur cerita dan pembagian peran.
Selebihnya, dialog berkembang secara spontan di atas panggung. Karena itu, kemampuan improvisasi menjadi modal utama bagi seorang pemain ketoprak.
Kepekaan membaca situasi, kepiawaian berbicara, serta keluwesan dalam melontarkan humor sangat menentukan kualitas pertunjukan.
Nama “ketoprak” sendiri diyakini berasal dari bunyi kentongan yang dipukul untuk mengundang penonton. Dalam bahasa Jawa, bunyi kentongan tersebut disebut “keprak”. Setelah kentongan dibunyikan, masyarakat akan berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan, sehingga kesenian ini kemudian dikenal dengan nama ketoprak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
