Jepara, Warisan Keahlian dari Sang Maestro
Masyarakat Jepara percaya bahwa keahlian mengukir yang mereka miliki saat ini merupakan warisan langsung dari pusaka peninggalan Sungging Prabangkara. Di Jepara, alat-alat ukir yang dikenal dengan sebutan tatah berkembang dengan sangat beragam.
Ada sekitar 30 jenis tatah, mulai dari tatah penyilat, tatah penguku, hingga tatah propil. Masing-masing alat memiliki fungsi berbeda untuk menghasilkan bentuk ukiran yang halus dan mendetail.
Jenis kayu yang digunakan pun sangat beragam, dengan kayu jati menjadi bahan utama karena kekuatannya dan seratnya yang indah. Kayu jati Jepara terkenal memiliki kualitas tinggi sehingga sangat cocok untuk karya ukir yang bernilai seni tinggi maupun furnitur mewah.
BACA JUGA:Balla To Kajang: Rumah Adat Suku Kajang yang Penuh Makna dan Kesederhanaan
Legisan, Penerus Tradisi Ukir Jepara
Salah satu penerus warisan seni ukir Jepara adalah Legisan, seorang pengrajin asal Mulyoharjo, Jepara. Ia mulai merintis usahanya sejak tahun 2011 setelah bertahun-tahun merantau ke berbagai daerah seperti Lamongan, Malang, Banyuwangi, dan Bali untuk menimba pengalaman.
Di tempat-tempat itu, Legisan mengajarkan teknik ukir kepada banyak orang sekaligus memperdalam kemahirannya.
Sekembalinya ke Jepara, ia membuka Adi Putra Galeri, tempat di mana karya-karyanya dihasilkan. Salah satu hasil ukiran yang terkenal dari Legisan adalah bentuk ikan arwana, yang banyak diminati pasar luar negeri seperti Korea, Thailand, dan Cina. Bahan yang digunakan biasanya kayu jati atau kayu tembesi, tergantung pesanan pembeli.
BACA JUGA:Mo Dulu-Dulu Lembah Bada: Tradisi Makan Bersama Sarat Nilai Persaudaraan
Proses Rumit di Balik Keindahan Ukiran
Membuat ukiran bukan pekerjaan sederhana. Prosesnya terdiri dari beberapa tahap: mulai dari pemotongan kayu, pembentukan dasar, hingga tahap pengukiran detail. Setelah bentuk selesai, dilakukan proses finishing dengan penyemprotan melamin agar permukaan terlihat halus dan serat kayu semakin menonjol.
Ada dua jenis finishing yang biasa digunakan, yaitu natural (mengkilap alami) dan dove (tampilan doff lembut). Namun, untuk pesanan ekspor ke Cina, finishing biasanya dikerjakan di sana karena mereka memiliki teknik penyempurnaan yang lebih halus.
Ironisnya, meskipun dulu Sungging Prabangkara belajar dari Cina, kini justru negara tersebut mengimpor ukiran dari Jepara. Hal ini menunjukkan bahwa keahlian para seniman ukir Indonesia telah berkembang jauh lebih maju dibanding masa lalu. Keunggulan utama seni ukir Jepara bukan hanya pada tekniknya, tetapi juga karena bahan kayu berkualitas tinggi yang masih melimpah di Indonesia.
BACA JUGA:Suku Kajang di Bulukumba: Hidup Sederhana dan Menyatu dengan Alam
Tantangan di Era Modern