Ukiran Jepara: Warisan Abadi Sungging Prabangkara dari Zaman Majapahit

Ukiran Jepara: Warisan Abadi Sungging Prabangkara dari Zaman Majapahit

Seni ukir Jepara, mahakarya Nusantara yang memadukan keindahan, filosofi, dan sejarah panjang-Foto [email protected]

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Seni ukir Jepara telah lama dikenal sebagai salah satu mahakarya budaya Indonesia yang mendunia. Keindahan, ketelitian, dan nilai filosofisnya menjadikan ukiran Jepara sebagai simbol kehalusan jiwa dan kejeniusan tangan-tangan pengrajin Nusantara. 

Namun, di balik kemegahan karya seni ini, tersimpan kisah menarik tentang seorang tokoh legendaris dari masa Kerajaan Majapahit bernama Sungging Prabangkara, yang disebut sebagai pelopor seni ukir Jepara.

BACA JUGA:Warisan Kebudayaan Majapahit yang Masih Hidup di Indonesia Modern

Asal Usul Sungging Prabangkara, Seniman dari Majapahit

Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, hidup seorang abdi dalem yang sangat mahir di bidang seni lukis dan pahat bernama Sungging Prabangkara. 

Ia dikenal karena kepiawaiannya menggambar wajah dan bentuk dengan sangat detail dan hidup. Keahliannya yang luar biasa membuat namanya tersohor hingga ke berbagai kerajaan lain, bahkan sampai ke luar negeri.

Konon, karena kemampuannya yang tinggi, Raja Majapahit mengutusnya untuk menjadi duta seni ke Kerajaan Cina. 

Di sana, Sungging tidak hanya memperkenalkan seni dan kebudayaan Majapahit, tetapi juga belajar banyak hal tentang teknik seni pahat dan ukir dari negeri tersebut. Perjalanan ini menjadi titik penting dalam perkembangan keahliannya, yang kelak melahirkan seni ukir khas Jepara.

BACA JUGA:Pakaian Hitam Adat Suku Kajang: Cerminan Kesederhanaan dan Kesetaraan Hidup

Kisah Legenda di Negeri Cina

Ada kisah menarik yang sering dikaitkan dengan perjalanan Sungging Prabangkara di Cina. Ia pernah diminta oleh Kaisar untuk melukis potret permaisuri kerajaan. Namun, lukisan tersebut begitu indah dan detail hingga memperlihatkan tanda lahir di tubuh sang permaisuri. 

Melihat hal itu, sang Kaisar murka karena merasa Sungging telah melanggar kesopanan dan kepercayaan. Akibat kesalahpahaman tersebut, Kaisar menjatuhkan hukuman kepada Sungging dengan menyuruhnya melukis seluruh pemandangan istana dari atas langit.

Karena pada masa itu belum ada alat untuk melihat dari ketinggian, para prajurit pun membuat layang-layang raksasa agar Sungging bisa melihat istana dari atas. 

Saat ia melukis dari atas layang-layang, angin kencang datang dan menyebabkan beberapa benda pusaka miliknya jatuh ke bumi. Konon, benda-benda itu jatuh di tiga tempat berbeda: Jepara, Pasuruan, dan Bali. Dari ketiga tempat inilah lahir para pengrajin dan penerus tradisi ukir yang luar biasa, terutama di Jepara.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: