Menu yang dihidangkan meliputi ikan sungai, ayam kampung, dan daging yang dimasak dengan cara tradisional seperti ituwu (memasak dalam bambu), inuyu (dibakar dengan balutan daun), tiawu (direbus dengan rempah khas Lore), dan beko (dipanggang di atas bara api).
Semua disiapkan menggunakan bahan alami tanpa pengawet, mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam.
Ketika makanan siap, seluruh warga duduk melingkar. Tak ada kursi, tak ada meja—semua setara di atas tanah yang sama.
Posisi melingkar menandakan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk menikmati hidangan. Satu aturan yang dijunjung tinggi adalah tidak boleh meninggalkan lingkaran sebelum semua selesai makan sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan.
BACA JUGA:Misteri Batu Megalitik Lembah Bada, Warisan Budaya Kuno di Sulawesi Tengah
Nilai Filosofis dan Sosial
Lebih dari sekadar kegiatan makan, Mo Dulu-Dulu menyimpan nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat Lore. Duduk bersama dan berbagi makanan mengajarkan arti kesederhanaan dan persatuan.
Tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial, tempat semua orang saling berinteraksi dan menumbuhkan rasa peduli.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai-nilai seperti ini semakin jarang ditemukan. Mo Dulu-Dulu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, tetapi dari kebersamaan dan rasa saling menghormati. Melaluinya, generasi muda diajarkan untuk menghargai tradisi leluhur, mencintai alam, dan menjaga harmoni sosial.
BACA JUGA:Pakaian Adat Suku Mandar: Busana Tradisional dari Sulawesi Barat
Hidangan Penutup dan Suasana Hangat
Setelah menikmati hidangan utama, acara dilanjutkan dengan sajian penutup seperti pancua, penganan manis khas masyarakat Lore.
Minuman tradisional seperti pongas (fermentasi beras) dan saguer (nira enau) terkadang disajikan untuk menambah kehangatan suasana.
Lagu daerah, candaan, dan nasihat dari para tetua adat menambah nilai edukasi sosial—anak-anak belajar tentang rasa syukur, tata krama, dan kebersamaan secara alami.
BACA JUGA:Makna dan Filosofi Perahu Sandeq: Warisan Agung Suku Mandar Penakluk Lautan
Cinta Alam dan Budaya