Bentuk serabi yang bulat dipercaya melambangkan kesempurnaan, keutuhan, dan keseimbangan hidup.
Dalam budaya Jawa, serabi sering disajikan saat kenduri atau perayaan adat sebagai ungkapan rasa syukur.
Hal ini menjadikan serabi bukan hanya kudapan pengisi perut, melainkan juga media pelestarian nilai budaya dan filosofi leluhur.
BACA JUGA:Asal Usul dan Sejarah Sate Kambing Khas Jawa Tengah
Serabi di Era Modern
Kini, serabi mengalami transformasi besar. Jika dulu hanya dijual di pasar tradisional atau acara adat, sekarang serabi hadir di kafe modern dengan tampilan lebih menarik dan topping kreatif.
Ada serabi keju mozzarella, serabi matcha, hingga serabi es krim.
Inovasi ini membuat serabi semakin digemari generasi muda, sekaligus menjaga eksistensinya di tengah maraknya jajanan asing.
BACA JUGA:Soto Kudus: Legenda Kuliner Jawa Tengah yang Sarat Sejarah dan Filosofi
Nilai Gizi
Meskipun sederhana, serabi cukup mengenyangkan karena terbuat dari tepung beras sebagai sumber karbohidrat.
Kandungan santan menambah cita rasa gurih sekaligus lemak sehat dalam jumlah moderat.
Jika ditambahkan topping buah atau sayuran, serabi bahkan bisa menjadi camilan yang lebih bergizi.(*)