Dari Ladang ke Toples: Kacang Otok dan Cara Orang Madura Melawan Waktu

Dari Ladang ke Toples: Kacang Otok dan Cara Orang Madura Melawan Waktu

Bukan Sekadar Camilan, Ini Filosofi Pengawetan di Balik Kacang Otok-Foto Facebook/rifyanisya-

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Melimpahnya hasil bumi seringkali menjadi pedang bermata dua bagi masyarakat agraris di masa lampau. 

Di satu sisi, panen raya adalah berkah, namun di sisi lain, ancaman pembusukan menghantui jika hasil tani tidak segera diolah.  

Masyarakat Madura, khususnya di wilayah Pamekasan dan Sumenep, memiliki jawaban cerdas atas tantangan ini melalui sebuah camilan legendaris yang kini kita kenal sebagai kacang otok. 

Jauh sebelum teknologi pengawetan modern atau kulkas masuk ke desa-desa, para leluhur di Pulau Garam telah mempraktikkan konsep food resilience atau ketahanan pangan dengan cara yang sangat elegan dan lezat.

BACA JUGA:Pe Sapean, Jajanan Unik Khas Bangkalan yang Nyaris Tinggal Kenangan

Sejarah Ketahanan Pangan dalam Biji Kacang

Bukan sekadar camilan teman ngopi, kacang otok lahir dari kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan hasil panen kacang tunggak atau kacang panjang (Vigna unguiculata) yang melimpah saat musim kemarau. 

Kondisi geografis Madura yang cenderung kering justru menghasilkan biji-bijian dengan kualitas kadar air yang rendah, sangat cocok untuk diawetkan. Masyarakat setempat memutar otak agar sumber protein nabati ini bisa disimpan berbulan-bulan tanpa mengubah rasa menjadi tengik. 

Solusinya bukan dengan pengeringan biasa, melainkan melalui proses pengolahan bertingkat yang mengubah struktur biji kacang menjadi garing sempurna. Transformasi ini menjadikan kacang otok sebagai simbol adaptasi manusia terhadap lingkungan dan siklus pertanian yang kadang tidak menentu.

BACA JUGA:Nasi Jamila: Kuliner Tradisional dengan Cita Rasa Rumahan yang Kaya Rempah

Teknik Pengolahan: Seni Kesabaran Menguliti

Proses pembuatan kacang otok bukanlah hal yang instan dan menuntut ketelatenan tingkat tinggi. Tahapan paling krusial dan memakan waktu adalah proses pemisahan kulit ari dari biji kacang. 

Para perajin di sentra produksi seperti Desa Plakpak, Pamekasan, biasanya merendam kacang tunggak semalaman untuk melunakkan kulit luarnya.

Keunikan teknis muncul pada tahap selanjutnya, di mana setiap biji kacang harus dipastikan bersih dari kulit ari. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: