Tradisi Kebo-keboan, Warisan Budaya Unik Banyuwangi

Sabtu 16-08-2025,21:00 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Setelah semua siap, prosesi dimulai dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh desa. Doa ini ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar desa selalu diberi keselamatan dan hasil pertanian tetap melimpah.

Setelah itu, para "kerbau" berjalan merangkak atau menunduk layaknya kerbau asli, bahkan terkadang mereka menggeram, meringkik, dan berguling di sawah berlumpur.

Di sela-sela prosesi, warga lain ikut mengiringi dengan membawa hasil bumi seperti padi, buah-buahan, dan sayuran.

Semua itu menjadi simbol rasa syukur atas anugerah panen yang telah diterima. Ritual berlanjut dengan arak-arakan mengelilingi desa, kemudian ditutup dengan doa penutup.

BACA JUGA:Jembatan Barelang, Ikon Batam yang Mendunia

Kebo-keboan bukan hanya ritual yang bersifat hiburan semata. Di balik itu, terkandung makna yang dalam. Kerbau dipandang sebagai lambang kerja keras, ketekunan, dan kekuatan.

Dengan menirukan kerbau, masyarakat seakan mengingatkan diri sendiri bahwa kehidupan bergantung pada usaha bersama serta penghormatan terhadap alam.

Selain itu, kebo-keboan memperlihatkan nilai solidaritas sosial. Semua warga tanpa memandang usia ikut serta dalam persiapan maupun jalannya acara.

Kebersamaan ini memperkuat ikatan antarwarga desa, sehingga tradisi tidak hanya berdampak pada sisi spiritual, tetapi juga sosial.

BACA JUGA:Tradisi Omed-omedan di Bali: Warisan Budaya Unik dan Pemersatu Pemuda

Seiring dengan berkembangnya pariwisata di Banyuwangi, tradisi kebo-keboan mulai dilirik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Pemerintah daerah menjadikannya agenda tahunan dalam rangkaian festival budaya. Wisatawan dapat menyaksikan bagaimana ritual adat dijalankan, sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Osing.

Hal ini tentu memberi dampak positif. Selain menjaga kelestarian tradisi, kebo-keboan juga meningkatkan perekonomian warga melalui sektor pariwisata.

Masyarakat bisa menjual hasil bumi, kerajinan tangan, maupun kuliner khas Banyuwangi kepada para pengunjung.

BACA JUGA:Rumah Joglo: Warisan Arsitektur Jawa yang Sarat Makna

Meski menjadi daya tarik budaya, kebo-keboan tetap menghadapi tantangan di era modern. Tidak sedikit generasi muda yang mulai kurang tertarik pada tradisi leluhur karena pengaruh gaya hidup masa kini.

Kategori :