Tanda-tanda intoleransi makanan biasanya muncul beberapa jam setelah mengonsumsi makanan pemicu, meski pada sebagian orang bisa lebih cepat.
Gejala yang sering muncul meliputi nyeri atau kram perut, perut terasa penuh atau kembung, diare, mual, muntah, produksi gas berlebih, hingga sakit kepala atau rasa lelah tanpa sebab jelas.
Meskipun gejalanya tidak separah alergi makanan, intoleransi dapat menurunkan kualitas hidup jika tidak ditangani dengan tepat.
Alergi makanan dipicu oleh reaksi sistem imun, gejalanya muncul cepat, bahkan bisa menimbulkan reaksi berat seperti sesak napas, ruam, atau pembengkakan.
BACA JUGA:Air Terjun Banyu Wana Amertha, Surga Tersembunyi di Pegunungan Buleleng
Sementara itu, intoleransi makanan berkaitan dengan sistem pencernaan, gejalanya muncul lebih lambat, dan biasanya hanya sebatas keluhan pencernaan tanpa mengancam nyawa.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi makanan pemicu dengan mencatat semua asupan dan gejala yang muncul.
Pola elimination diet dapat membantu, yaitu dengan menghilangkan makanan tertentu lalu mengujinya kembali secara bertahap.
Jika sudah diketahui makanan pemicunya, penderita dapat menghindari atau membatasi konsumsinya.
BACA JUGA:Goa Tangkaboba Poso, Wisata Alam Bawah Tanah dengan Air Terjun di Dalamnya
Misalnya, penderita intoleransi laktosa bisa memilih susu bebas laktosa atau susu nabati seperti almond, kedelai, dan oat.
Suplemen enzim seperti lactase juga dapat membantu mencerna laktosa. Konsultasi dengan tenaga medis atau ahli gizi penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.
Selain itu, selalu periksa label kemasan makanan agar terhindar dari zat pemicu yang mungkin tersembunyi.