Jeroan dan Daging Merah Berlebihan
Contoh: hati, ampela, usus, paru, sate kambing, rendang, gulai.
Jeroan dan daging merah mengandung purin tinggi yang diubah tubuh menjadi asam urat. Kelebihan asam urat dapat membentuk kristal di ginjal, menyebabkan batu ginjal atau peradangan.
Selain itu, tingginya kandungan protein hewani meningkatkan beban ginjal dalam memproses limbah nitrogen. Konsumsi jeroan secara berlebihan juga berkaitan dengan risiko tekanan darah tinggi dan kolesterol jahat (LDL) yang turut mempercepat kerusakan ginjal.
BACA JUGA:MG Perkenalkan Mobil Hybrid: Solusi Praktis di Tengah Keterbatasan Infrastruktur EV
Makanan Olahan dan Kalengan
Contoh: sosis, nugget, kornet, makanan cepat saji, makanan beku siap saji.
Makanan olahan umumnya mengandung garam tinggi, fosfat tambahan, bahan pengawet, dan zat aditif yang membebani fungsi detoksifikasi ginjal.
Fosfat anorganik yang cepat diserap tubuh dapat merusak pembuluh darah ginjal. Zat pengawet seperti nitrit dan nitrat bisa bersifat toksik jika dikonsumsi terus-menerus. Konsumsi jangka panjang makanan jenis ini tidak hanya mempercepat kerusakan ginjal, tetapi juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan jantung.
BACA JUGA:Simulasi KUR BRI 2025: Pinjam Rp 500 Juta, Bayar Cicilan Rp 10 Juta
Gorengan dan Makanan Tinggi Lemak Trans
Contoh: bakwan, tahu isi, cireng, kerupuk goreng, pisang goreng.
Minyak yang digunakan berulang kali dalam penggorengan menghasilkan lemak trans dan radikal bebas. Lemak trans memicu peradangan sistemik dan merusak pembuluh darah, termasuk yang menuju ginjal.
Pasokan darah yang tidak optimal ke ginjal dapat menurunkan fungsinya secara bertahap, terutama bila dikombinasikan dengan gaya hidup tidak sehat. Gorengan juga meningkatkan kolesterol jahat, memperbesar risiko penyakit jantung, dan memberikan tekanan tambahan pada kerja ginjal.
BACA JUGA:Crazy Win: Aplikasi Penghasil Saldo DANA yang Terbukti Bikin Cuan
Bijak Memilih, Lindungi Ginjal Sejak Dini