Dalam upacara ini, kerbau memiliki peran penting. Hewan ini dianggap suci dan dipercaya sebagai penuntun arwah menuju alam roh. Jumlah kerbau yang dikurbankan menjadi simbol status sosial almarhum serta keluarganya.
Masyarakat percaya semakin banyak kerbau yang disembelih, maka semakin cepat roh orang yang meninggal mencapai tujuannya di alam puya.
Kerbau yang dikurbankan tidak sembarangan. Beberapa keluarga memilih kerbau belang (tedong bonga), yang harganya bahkan mencapai ratusan juta rupiah.
Penyembelihan dilakukan secara terbuka di tengah prosesi, yang disaksikan oleh semua tamu.
BACA JUGA:8 Gunung Paling Menawan di Indonesia, Surganya Para Pendaki
Setelah penyembelihan kerbau dan doa-doa pengantar, keluarga serta para tamu biasanya melakukan perarakan mengelilingi tongkonan tempat jenazah disemayamkan. Mereka berjalan sambil menyanyikan nyanyian adat dan melafalkan mantra penghantar roh.
Suasana sering kali berubah menjadi haru, terlebih ketika ada anggota keluarga yang tidak mampu menahan tangis.
Tangisan dalam prosesi ini bukanlah larangan. Justru, itu menjadi bagian dari ekspresi batin atas kehilangan.
Dalam budaya Toraja, menangis saat Rambu Solo merupakan bentuk cinta dan juga penghormatan terakhir yang tulus.
BACA JUGA:Cara Klaim Saldo DANA Kaget Viral di Grup WhatsApp dan Telegram
Setelah semua ritual selesai jenazah dibawa menuju tempat pemakaman. Proses penguburan di Toraja tidak seperti di daerah lain.
Jenazah tidak dikubur dalam tanah, melainkan disimpan di gua-gua alami di tebing batu ataupun dalam rumah makam khusus yang disebut patane.
Lokasi pemakaman biasanya tidak jauh dari lokasi upacara, namun jalurnya menanjak dan tidak mudah dilewati.
Sebelum peti jenazah dimasukkan, pancang ataupun penyangga peti akan dipotong terlebih dahulu.
BACA JUGA:Lenggang Nyai, Tarian Betawi Penuh Makna Perlawanan dan Keberanian Perempuan
Peti lalu dimasukkan ke dalam liang batu atau ruangan khusus bersama peti-peti lain dari anggota keluarga.