2. Gamelan Renteng
Nama "renteng" berasal dari penataan alat musik yang disusun sejajar atau berjajar. Jenis gamelan ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16, menjadikannya salah satu jenis gamelan tertua di Tatar Sunda. Gamelan renteng umumnya menggunakan dua sistem laras: salendro dan pelog.
Perangkat musik yang digunakan antara lain kongkoang, cempres, gong, dan alat tabuh lainnya. Dalam penyajiannya, kongkoang dan cempres berfungsi untuk memainkan melodi, kendang menjaga irama, sementara gong menjadi penanda akhir lagu. Kelompok gamelan renteng mencakup beberapa subjenis seperti goong renteng, degung awal, sakati, koromong, dan carabalen dari wilayah Ciamis.
Menariknya, sebagian pemerhati seni percaya bahwa gamelan degung merupakan bentuk pengembangan dari goong renteng. Kemiripan bentuk alat dan larasnya memperkuat dugaan tersebut.
BACA JUGA:Tari Pendet: Simbol Penyambutan dari Pulau Dewata
3. Gamelan Ketuk Tilu
Gamelan ketuk tilu dikenal luas sebagai alat pengiring tari rakyat di berbagai daerah Sunda. Nama tersebut adalah ketuk tilu yang merujuk pada tiga buah ketukan (semacam gong kecil) yang menjadi bagian penting dalam perangkat musik tersebut. Selain itu instrumen lainnya meliputi rebab, kendang besar, gong, kempul, kulanter (kendang kecil), serta kecrek.
Gamelan ini mulanya digunakan untuk mengiringi tarian rakyat seperti ibing ketuk tilu. Seiring berjalannya waktu, fungsinya diperluas menjadi pengiring berbagai bentuk hiburan rakyat seperti ronggeng gunung, doger, hingga topeng banjet.
Karena keterkaitannya yang erat dengan pertunjukan rakyat, gamelan ketuk tilu dianggap sebagai musik yang merakyat dan dinamis.
BACA JUGA:Sedan Listrik Xpeng P7 Rilis Agustus, Tawarkan Fast Charging 800V
Degung: Gamelan Khas Bangsawan Sunda
Dari semua jenis gamelan Sunda, degung mungkin adalah yang paling dikenal luas dan dianggap paling mewakili budaya Sunda.
Degung memiliki komposisi suara yang khas dan pada masa lalu hanya dimainkan di lingkungan istana atau kalangan bangsawan.
Asal-usul nama “degung” sering dikaitkan dengan makna kebesaran atau kemegahan. Dulu, degung dimainkan secara instrumental tanpa vokal, karena digunakan dalam upacara resmi atau pertemuan penting yang menuntut suasana khidmat.
BACA JUGA:Skincare Pagi Simpel untuk Remaja: 3 Langkah Cepat Bikin Wajah Fresh ke Sekolah
Namun pada masa-masa berikutnya, gamelan degung mulai dimainkan dalam acara masyarakat umum seperti pernikahan, khitanan, dan hajatan lainnya.