Putri Napal Melintang yang polos mulai menyadari sesuatu yang ganjil. Di sudut istana, banyak sekali tumpukan harta yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ketika ditanya, Raja Gagak hanya menjawab bahwa itu adalah hadiah dari sahabat-sahabat kerajaan.
Namun, ketika sang putri bertanya lagi di lain hari, ayahnya mulai menunjukkan sikap marah dan melarangnya mencampuri urusan istana.
Sang putri hanya bisa menyimpan rasa penasarannya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya telah menjadi alat bagi ayahnya untuk mengumpulkan kekayaan dari para pelamar yang tak pernah diberi kejelasan.
BACA JUGA:Festival Erau: Warisan Budaya Kutai Kartanegara yang Mendunia
Ketika waktu pernikahan yang dijanjikan kepada para pangeran sudah dekat, Raja Gagak mulai panik. Ia takut rahasianya terbongkar dan para pangeran akan marah besar.
Dalam kebingungan, ia mengambil keputusan tergesa-gesa: kabur membawa serta sang putri dan semua harta yang telah dikumpulkannya.
Putri Napal Melintang yang tidak mengetahui apa yang terjadi, mengikuti sang ayah dengan penuh kepercayaan. Mereka berjalan menyusuri hutan lebat, jauh dari istana dan kehidupan kerajaan.
Di tengah perjalanan, sang putri mencoba bertanya mengapa mereka pergi, tetapi Raja Gagak hanya menyuruhnya diam.
BACA JUGA:Pusung Tagel: Ikon Kedewasaan dan Keanggunan Perempuan Bali
Setelah berhari-hari berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah telaga yang jernih dan tenang. Di situlah mereka memutuskan untuk beristirahat.
Di tepi telaga, sang putri kembali memberanikan diri bertanya. Dengan penuh kemarahan, Raja Gagak melemparkan kesalahan pada putrinya.
Ia menyalahkan kecantikannya sebagai sumber malapetaka yang kini menimpa mereka. Mendengar itu, hati Putri Napal Melintang hancur. Ia merasa bersalah, meskipun sebenarnya ia adalah korban dari ketamakan ayahnya sendiri.
Dengan hati yang tulus, ia meminta maaf kepada ayahnya. Ia pun menawarkan diri untuk mengakhiri semuanya demi menyelamatkan nama baik kerajaan dan sang ayah.
BACA JUGA:Menelusuri Tradisi Bali Aga di Desa Tenganan Pegringsingan
Sebelum melangkah ke telaga, ia meminta satu permohonan terakhir: ingin melihat wajahnya yang sebenarnya, sekali saja.