Tegal Alun Papandayan: Hamparan Edelweis di Atap Jawa Barat

Kamis 05-06-2025,20:23 WIB
Reporter : Yayan Prantoso
Editor : Budi Setiawan

Cuaca di ketinggian dapat berubah drastis, dan suhu bisa turun dengan cepat, terutama pada sore dan malam hari.

Berada di Tegal Alun memberi pengalaman yang lebih dari sekadar perjalanan fisik.

Lanskap terbuka yang luas, aroma tumbuhan pegunungan, serta suara alam yang tenang menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di tempat lain.

Banyak pendaki yang merasakan perasaan haru saat tiba di padang edelweis ini—sebuah kombinasi antara rasa syukur, takjub, dan kebahagiaan setelah melewati jalur pendakian yang menantang.

BACA JUGA:Pulau Tomia: Surga Tersembunyi di Jantung Wakatobi

Kabut yang kerap turun di siang hingga sore hari menambah nuansa dramatis kawasan ini.

Dalam sekejap, hamparan bunga bisa tertutup selimut kabut tipis, menciptakan suasana seperti negeri dongeng di atas awan.

Tegal Alun seakan mengajak setiap pendaki untuk merenung dan menghargai kesempurnaan ciptaan alam.

Sebagai habitat asli edelweis, Tegal Alun merupakan kawasan yang harus dilestarikan.

BACA JUGA:Menepi di Pulau Semak Daun: Sunyi yang Menyembuhkan

Sayangnya, masih ada pengunjung yang memetik bunga ini untuk dibawa pulang sebagai cendera mata, padahal tindakan tersebut dilarang dan termasuk pelanggaran hukum.

Edelweis adalah tanaman yang dilindungi, dan memetiknya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem yang sudah terbentuk secara alami selama bertahun-tahun.

Pengelola Gunung Papandayan telah menerapkan aturan ketat untuk menjaga kelestarian kawasan ini.

Pendaki dihimbau untuk tidak mengambil bunga, tidak membuang sampah sembarangan, serta hanya menggunakan jalur resmi yang telah disediakan.

BACA JUGA:Berpetualang Menikmati Keindahan Alam di Curug 7 Cilember, Puncak Bogor

Tanggung jawab ini bukan hanya tugas pihak pengelola, tetapi juga merupakan komitmen setiap individu untuk menjaga warisan alam Indonesia.

Kategori :