Blue Fire Ijen, Keindahan yang Tak Terpadamkan

Selasa 13-05-2025,19:07 WIB
Reporter : Yayan Prantoso
Editor : Budi Setiawan

Para pendaki biasanya terlihat sedang mempersiapkan diri, mengenakan jaket tebal dan perlengkapan lainnya sebelum memulai perjalanan menanjak.

Dari titik awal pendakian di Paltuding, jalur menuju kawah membentang sepanjang tiga kilometer. Rute ini cukup menantang, terutama bagi pemula. 

Dua kilometer pertama didominasi oleh jalan tanah yang cukup lebar namun berdebu, sedangkan satu kilometer terakhir terdiri dari jalanan berbatu yang sempit dan cukup terjal. 

Pendakian di malam hari memerlukan penerangan yang memadai serta stamina yang cukup kuat, mengingat kondisi jalur yang licin dan berbatu.

BACA JUGA:Wae Rebo, Permata Budaya di Atas Awan Flores

Aroma belerang akan mulai tercium semakin kuat menjelang area kawah. Ini menjadi pertanda bahwa lokasi utama sudah dekat. 

Sesampainya di tepi kawah, wisatawan akan disuguhkan pemandangan luar biasa: nyala api berwarna biru terang tampak keluar dari celah-celah batuan. 

Api biru ini bukan berasal dari pembakaran api biasa, melainkan merupakan hasil dari pembakaran gas belerang yang keluar dari perut bumi dan bereaksi dengan oksigen pada suhu tinggi. 

Karena hanya bisa dilihat dalam kondisi gelap, waktu terbaik untuk menikmati fenomena ini adalah sebelum fajar menyingsing.

BACA JUGA:Paisu Pok, Danau Eksotis di Sulawesi Tengah

Saat hari mulai terang, warna biru dari api secara perlahan memudar. Namun, keindahan Kawah Ijen belum berhenti sampai di situ. 

Begitu cahaya matahari menyinari kawasan pegunungan, danau kawah yang berwarna hijau kebiruan mulai terlihat dengan jelas. 

Warna ini berasal dari kandungan asam sulfat yang tinggi di dalam danau, menjadikannya salah satu danau asam terbesar di dunia. 

Kawah Ijen sendiri terbentuk dari letusan gunung berapi yang masih aktif, dengan kedalaman mencapai 200 meter dan luas sekitar 5.466 hektare.

BACA JUGA:Coban Rondo: Simfoni Alam dan Jejak Cinta yang Abadi

Gunung Ijen tercatat telah beberapa kali mengalami erupsi, yakni pada tahun 1796, 1817, 1913, dan terakhir kali pada 1936.

Kategori :

Terkait