Mengenal Hahiwang: Seni Tutur Penuh Emosi dari Lampung

Sabtu 26-04-2025,19:33 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Akar Budaya dan Sejarah

Hahiwang lahir dari budaya masyarakat adat di wilayah pesisir Lampung. Sejak dulu, seni ini digunakan sebagai wadah ekspresi, terutama dalam menghadapi peristiwa emosional. 

Ia berkembang secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas masyarakat lokal.

Dulunya, seni ini lebih umum dibawakan oleh perempuan, terutama dalam konteks kehilangan atau kesedihan. 

Namun, seiring waktu, hahiwang menjadi milik bersama masyarakat Lampung dan tidak terbatas pada gender tertentu. 

Ia juga menjadi penanda bahwa masyarakat Lampung memiliki cara tersendiri dalam menyikapi emosi secara budaya.

 

Keunikan Syair dan Makna Simbolik

Salah satu daya tarik hahiwang terletak pada syairnya. Syair-syair ini tidak disampaikan secara lugas, melainkan penuh dengan simbol dan kiasan. 

Misalnya, seseorang yang pergi jauh dan tidak kembali bisa digambarkan sebagai perahu yang hilang di tengah lautan.

Penggunaan simbol seperti ini menjadikan hahiwang sebagai karya seni yang bukan hanya menyentuh, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenung dan memahami makna tersembunyi. 

Puitisasi dalam syair juga menunjukkan kecerdasan budaya masyarakat Lampung dalam menyampaikan pesan-pesan emosional.

 

Ancaman Kepunahan di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, keberadaan hahiwang mulai terpinggirkan. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya populer dan hiburan digital. Bahasa Lampung sebagai media utama hahiwang juga mulai jarang digunakan.

Jika tidak ada upaya nyata untuk menghidupkan kembali seni ini, hahiwang berpotensi punah. 

Kategori :