- Sebagian Bali
- NTB dan NTT
Sedangkan pada Mei, kemarau diperkirakan akan meluas ke:
- Sebagian kecil Sumatera
- Jawa Tengah hingga Jawa Timur
- Kalimantan Selatan
- Bali dan Papua bagian selatan
Ini merupakan bagian dari pola tahunan yang secara bertahap membentuk peta sebaran musim kemarau di Indonesia.
Dengan perubahan cuaca yang sudah dapat diprediksi sejak dini, BMKG mengimbau sektor pertanian untuk mulai menyesuaikan jadwal tanam.
Salah satu langkah strategis yang disarankan adalah menggunakan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan air, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih kering dari normal.
Untuk wilayah yang justru mengalami kemarau lebih basah, seperti beberapa daerah dataran tinggi, dapat memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas lahan sawah.
Tujuannya agar produksi pertanian tetap meningkat meskipun sedang berada di musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa meski kemarau 2025 diprediksi normal, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap tinggi di daerah yang memiliki curah hujan rendah.
Oleh karena itu, wilayah seperti Kalimantan, Sumatera bagian selatan, dan NTT harus meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Ardhasena juga menyebutkan bahwa kondisi musim kemarau 2025 kemungkinan besar akan mirip dengan tahun 2024, lebih terkendali dibanding tahun 2023 yang ditandai dengan kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan yang meluas.