Mengenal Istano Basa Pagaruyung, Simbol Kejayaan Budaya Minangkabau

Mengenal Istano Basa Pagaruyung, Simbol Kejayaan Budaya Minangkabau

Istano Basa Pagaruyung menjadi salah satu destinasi wisata budaya paling penting di Sumatera Barat. -Foto Instagram@yulfiza04-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan warisan budaya dan sejarah. Salah satu peninggalan penting yang hingga kini masih berdiri megah adalah Istano Basa Pagaruyung, sebuah istana adat Minangkabau yang terletak di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 

Bangunan ini bukan sekadar objek wisata, melainkan simbol kebesaran sejarah, adat, dan sistem pemerintahan masyarakat Minangkabau pada masa lampau.

Istano Basa Pagaruyung juga dikenal sebagai Istana Besar Kerajaan Pagaruyung. Wujud bangunannya menyerupai rumah gadang berukuran raksasa yang sarat dengan nilai filosofi dan estetika khas Minangkabau. 

Keberadaan istana ini menjadi pengingat penting akan kejayaan kerajaan tradisional yang pernah berpengaruh besar di wilayah Sumatera.

BACA JUGA:Soto Mie Bogor, Kuliner Legendaris dengan Kuah Bening dan Risol Unik

Jejak Sejarah Istano Basa Pagaruyung

Sejarah Istano Basa Pagaruyung berkaitan erat dengan sosok Adityawarman, raja yang memimpin Kerajaan Pagaruyung pada abad ke-14. 

Pada masa awalnya, istana kerajaan berdiri di kawasan Bukit Batu Patah dan berfungsi sebagai pusat pemerintahan serta kediaman raja.

Namun, perjalanan sejarah istana ini tidak selalu berjalan mulus. Pada awal abad ke-19, tepatnya tahun 1804, bangunan istana lama mengalami kehancuran akibat konflik besar yang dikenal sebagai Perang Padri. 

BACA JUGA:Strategi Ampuh Hilangkan Flek Hitam 14 Hari, Kulit Lebih Cerah dan Bersih

Peristiwa tersebut menyebabkan istana terbakar dan meninggalkan jejak keruntuhan panjang dalam sejarah Pagaruyung.

Kesadaran untuk membangun kembali simbol kebesaran Minangkabau muncul beberapa dekade kemudian. Pada akhir 1960-an, Harun Zain, Gubernur Sumatera Barat saat itu, menggagas rekonstruksi Istano Basa Pagaruyung. 

Gagasan ini dilatarbelakangi keinginan untuk memperkuat identitas budaya Minangkabau, khususnya setelah peristiwa PRRI yang mengguncang persatuan masyarakat Sumatera Barat.

Pembangunan replika istana akhirnya terealisasi pada tahun 1976 di kawasan Tanjung Emas, Tanah Datar. Sejak saat itu, Istano Basa Pagaruyung ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya sekaligus dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata sejarah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: