Terjebak dalam Survival Mode: Saat Tubuh dan Pikiran Terus Siaga Tanpa Henti

Terjebak dalam Survival Mode: Saat Tubuh dan Pikiran Terus Siaga Tanpa Henti

Survival mode yang berlangsung lama dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh-Ilustrasi Gemini AI-

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Survival mode adalah kondisi ketika tubuh dan pikiran terus berada dalam keadaan siaga tinggi akibat tekanan atau stres berkepanjangan. Secara alami, manusia dibekali sistem pertahanan diri untuk menghadapi ancaman. 

Namun, ketika respons tersebut aktif terlalu lama tanpa jeda, dampaknya dapat mempengaruhi kesehatan fisik, emosional, hingga kualitas hidup secara menyeluruh.

Dalam situasi normal, tubuh memiliki mekanisme otomatis yang dikenal sebagai respons melawan, menghindar, atau membeku. Mekanisme ini membantu seseorang bertahan dalam kondisi berbahaya. 

Detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, otot menegang, dan hormon stres dilepaskan untuk meningkatkan kewaspadaan. Masalah muncul ketika tubuh tidak pernah benar-benar “mematikan” mode darurat tersebut, meskipun ancaman sudah tidak lagi nyata.

BACA JUGA:Hakim Tolak Praperadilan Richard Lee, Doktif Sujud Syukur di Ruang Sidang

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Survival Mode Aktif?

Ketika survival mode berlangsung dalam jangka panjang, sistem saraf simpatik terus bekerja tanpa diimbangi sistem relaksasi tubuh. Produksi hormon stres yang berlebihan dapat memicu gangguan tidur, menurunnya daya tahan tubuh, masalah pencernaan, hingga kesulitan berkonsentrasi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu gangguan kecemasan, depresi, serta kelelahan kronis. Secara psikologis, otak cenderung lebih fokus pada ancaman daripada solusi. 

Bagian otak yang berperan dalam berpikir rasional dan mengambil keputusan menjadi kurang optimal karena energi mental terkuras untuk mempertahankan rasa aman.

BACA JUGA:Cara Ajukan KUR BRI 2026, Bunga 6 Persen dan Plafon hingga Rp500 Juta

Tanda-Tanda Seseorang Berada dalam Survival Mode

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam survival mode karena menganggap stres yang dialami sebagai hal yang wajar. Padahal, ada sejumlah tanda yang dapat dikenali.

Perasaan cemas berkepanjangan sering muncul tanpa sebab yang jelas. Pikiran sulit merasa tenang dan cenderung membayangkan kemungkinan terburuk. 

Emosi menjadi lebih sensitif atau mudah meledak terhadap hal-hal kecil. Konsentrasi menurun, otak terasa penuh, mudah lupa, dan lambat dalam mengambil keputusan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: