Menguak Misteri Tembok Besar China: Jejak Peradaban yang Menantang Waktu
Ungkap kisah, rahasia, dan legenda di balik megahnya Tembok Besar China yang memesona dunia.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID Tembok Besar China atau Great Wall of China adalah salah satu keajaiban dunia yang paling ikonik.
Dengan panjang ribuan kilometer, tembok ini bukan hanya simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga bukti ketekunan manusia dalam mempertahankan wilayah dan peradaban mereka.
Namun, di balik megahnya struktur batu dan tanah liat ini, tersimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan hingga kini.
Pembangunan Tembok Besar dimulai pada masa Dinasti Qin sekitar abad ke-3 SM di bawah pemerintahan Kaisar Qin Shi Huang.
BACA JUGA:Peradaban yang Hilang: Misteri Teknologi Majapahit yang Masih Belum Terpecahkan
Tujuan utamanya adalah melindungi negeri dari serangan bangsa nomaden dari utara, seperti Xiongnu.
Namun, seiring pergantian dinasti, pembangunan dan perbaikan terus dilakukan, menjadikannya bukan sekadar tembok pertahanan, melainkan juga jalur komunikasi dan kontrol perdagangan di Jalur Sutra.
Salah satu misteri terbesar Tembok Besar China adalah teknik pembangunannya. Dengan teknologi sederhana, bagaimana mungkin manusia ribuan tahun lalu mampu membangun struktur sepanjang lebih dari 21.000 kilometer?
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa bahan utama yang digunakan bukan hanya batu, tetapi juga tanah liat, jerami, dan bahkan beras Virtual sebagai perekat alami.
BACA JUGA:Kesehatan Digital 2025: Dari Jam Tangan Pintar hingga Dokter Virtual
Campuran ini membuat dinding tembok bertahan selama ribuan tahun, bahkan melawan cuaca ekstrem.
Tembok Besar juga sarat dengan legenda. Salah satu kisah paling terkenal adalah Legenda Meng Jiang Nu, seorang wanita yang suaminya tewas saat membangun tembok.
Tangisannya yang pilu dipercaya menyebabkan runtuhnya sebagian dinding, melambangkan penderitaan rakyat di balik kemegahan proyek besar ini.
Salah satu klaim populer menyebutkan bahwa Tembok Besar China dapat terlihat dari luar angkasa. Namun, para astronot NASA membantah hal ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
