Meditasi Berbasis Neurosains: Bukti Ilmiah di Balik Ketenangan Pikiran
Meditasi Neurosains menurunkan stres, dan meningkatkan kebahagiaan. Ketenangan pikiran kini bukan hanya mitos spiritual, tetapi kenyataan ilmiah.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Selama berabad-abad, meditasi dikenal sebagai praktik spiritual untuk mencapai ketenangan batin dan keseimbangan diri.
Namun kini, sains modern—khususnya neurosains —membuktikan bahwa meditasi bukan sekadar tradisi kuno, melainkan aktivitas yang benar-benar mengubah cara otak bekerja.
Penelitian menunjukkan bahwa meditasi mampu memengaruhi struktur dan fungsi otak secara nyata, meningkatkan fokus, mengurangi stres, serta menumbuhkan rasa bahagia yang lebih stabil.
Di dalam otak manusia terdapat jaringan saraf yang sangat kompleks. Saat seseorang bermeditasi secara rutin, aktivitas pada bagian otak tertentu berubah secara signifikan.
BACA JUGA:Eksplorasi Mars: Langkah Nyata Menuju Koloni Manusia di Planet Merah
Menurut studi dari Harvard Medical School, meditasi mindfulness dapat menebalkan area prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan konsentrasi.
Selain itu, aktivitas di amygdala—pusat pengatur rasa takut dan stres—menurun. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang yang rajin bermeditasi cenderung lebih tenang, tidak mudah cemas, dan mampu berpikir jernih bahkan di situasi penuh tekanan.
Dari sisi aktivitas listrik otak, meditasi meningkatkan gelombang alfa dan theta, dua jenis gelombang yang berkaitan dengan relaksasi mendalam dan kreativitas.
Selama meditasi, otak beralih dari mode “siaga tinggi” menuju kondisi sadar penuh namun rileks. Keadaan ini sering disebut sebagai “restful awareness” — tenang tapi tetap waspada.
BACA JUGA:Bagaimana Otak Bekerja Saat Kita Bermimpi?
Bahkan, penelitian menggunakan fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) menunjukkan bahwa meditasi dapat menurunkan aktivitas default mode network (DMN) — jaringan yang aktif saat pikiran mengembara atau overthinking.
Dengan kata lain, meditasi secara harfiah membuat otak kita lebih fokus pada saat ini, bukan terseret oleh masa lalu atau kekhawatiran akan masa depan.
Berbagai studi di bidang psikologi klinis menemukan bahwa meditasi efektif menurunkan gejala depresi, kecemasan, insomnia, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Meditasi juga membantu menstabilkan hormon kortisol, yaitu hormon stres utama yang sering kali berlebihan pada individu dengan tekanan mental tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
