Jenang Kudus, Dari Warisan Sunan Kudus ke Ikon Wisata Jawa Tengah
Jenang Kudus bukan sekadar makanan manis biasa, melainkan warisan budaya yang sarat makna. - Foto Freepik--
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Jenang Kudus bukan sekadar panganan manis yang legit, melainkan warisan budaya yang melekat erat dengan sejarah dan tradisi masyarakat Kudus, Jawa Tengah.
Usianya sudah berabad-abad, dengan jejak yang bisa ditelusuri hingga abad ke-16, ketika Sunan Kudus menyebarkan Islam di tanah Kudus.
Sejak masa itu, jenang dibuat sebagai wujud rasa syukur atas panen melimpah sekaligus suguhan istimewa pada hari-hari besar keagamaan.
Hingga kini, jenang tetap menjadi simbol persaudaraan, kebersamaan, dan doa untuk keberkahan hidup.
BACA JUGA:Sego Megono, Kuliner Tradisional Pekalongan Jawa Tengah yang Kaya Rasa dan Makna Budaya
Filosofi Manis dan Lengket
Tekstur jenang Kudus yang lengket mengandung makna perekat persaudaraan antarwarga. Filosofi ini mengajarkan pentingnya hidup rukun, saling membantu, dan gotong royong.
Sementara itu, rasa manisnya menjadi doa agar masyarakat diberi kebahagiaan dan keberuntungan.
Filosofi sederhana namun mendalam inilah yang membuat jenang lebih dari sekadar makanan, melainkan media pengikat nilai sosial dan spiritual.
BACA JUGA:Sup Senere: Kuliner Khas Tegal Jawa Tengah yang Gurih dan Bergizi Tinggi
Bahan Baku Alami
Rahasia kelezatan jenang Kudus ada pada bahan bakunya yang berasal dari hasil bumi lokal, seperti:
- Beras ketan pilihan, menghasilkan tekstur kenyal dan pulen.
- Santan kelapa segar, memberi rasa gurih dan aroma harum.
- Gula merah atau gula kelapa, menciptakan rasa manis legit dengan warna cokelat alami.
- Daun pandan dan garam, menambah wangi sekaligus menyeimbangkan rasa.
Beberapa varian juga menambahkan kacang tanah, wijen, atau buah seperti durian untuk memperkaya cita rasa.
BACA JUGA:Serabi: Pancake Tradisional Indonesia yang Penuh Filosofi
Proses Pembuatan yang Penuh Kesabaran
Membuat jenang Kudus membutuhkan keterampilan dan ketelatenan tinggi. Beras ketan direndam, digiling halus, lalu dimasak bersama santan, gula, dan pandan di kuali besar.
Adonan harus diaduk terus-menerus selama berjam-jam dengan api kecil hingga kental, halus, dan mengkilap. Jika lengah, jenang bisa pecah minyak atau cepat basi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
