Pasar Kendaraan Niaga Lesu di Semester I 2025, Proyek Infrastruktur Melambat Jadi Pemicu

Pasar Kendaraan Niaga Lesu di Semester I 2025, Proyek Infrastruktur Melambat Jadi Pemicu

Booth Hino di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025-Foto Instagram@hinoid-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Hingga saat ini penjualan unit kendaraan niaga di Indonesia sedang mengalami tekanan yang cukup signifikan yang terjadi di sepanjang semester I tahun 2025. 

Ternyata berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) diketahui bahwa penjualan truk dengan gross vehicle weight (GVW) 5–10 ton merosot dari 20.891 unit pada Januari hingga Juni 2024 menjadi 17.891 unit pada periode yang sama tahun 2025 ini.

Kukuh Kumara, Sekretaris Umum GAIKINDO, mengaku bahwa penurunan itu terjadi karena dipicu oleh melambatnya pengerjaan proyek infrastruktur dan belum pulihnya sektor komoditas.

“Kendaraan niaga erat kaitannya dengan aktivitas proyek dan komoditas. Karena ketika ekonomi mulai bergerak maka harga komoditas akan naik dan sektor tambang hidup kembali, penjualan truk biasanya ikut terdongkrak. Tapi saat ini kondisinya sedang sangat berat,” ujar Kukuh saat ditemui di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (29 Juli 2025).

BACA JUGA:Polsek Natar Kerahkan Anjing Pelacak Cari Pegawai Koperasi yang Dilaporkan Hilang

Penurunan penjualan juga terlihat pada beberapa merek besar:

- Mitsubishi Fuso: retail turun dari 13.032 unit (H1 2024) menjadi 11.640 unit (H1 2025).

- Isuzu: terkoreksi dari 13.940 unit menjadi 11.294 unit.

- UD Trucks: merosot tipis dari 816 unit menjadi 764 unit.

BACA JUGA:Crazy Win: Aplikasi Penghasil Saldo DANA yang Terbukti Bikin Cuan

Menurut GAIKINDO, penjualan kendaraan niaga sangat sensitif terhadap aktivitas ekonomi nasional. 

Ketika belanja proyek pemerintah maupun swasta menurun, permintaan truk untuk distribusi material ikut melemah.

Kukuh menekankan perlunya kebijakan pemerintah yang konsisten dan ramah investasi.

“Kami mendorong kebijakan yang pro-investor dan berjangka panjang. Kendaraan komersial memiliki masa pakai panjang, sehingga dibutuhkan kepastian regulasi minimal untuk 20–30 tahun ke depan,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: