Pedang Bara Sangihe: Pusaka Leluhur yang Menjaga Identitas Budaya Sulawesi Utara
Pedang Bara Sangihe bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan lambang semangat yang masih menyala di tengah masyarakat—simbol perjuangan, kehormatan, dan nilai-nilai budaya yang harus terus diwariskan. - Foto:Instagram@carikontrakansolo--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Kepulauan Sangihe yang terletak di bagian paling utara Provinsi Sulawesi Utara menyimpan warisan budaya yang kaya dan sarat makna.
Salah satu pusaka penting dari wilayah ini adalah Pedang Bara Sangihe, senjata tradisional yang tidak hanya digunakan untuk bela diri, tetapi juga memiliki makna simbolik yang kuat bagi masyarakat setempat.
Benda pusaka ini menjadi lambang kebanggaan, keberanian, dan martabat orang Sangihe.
Ia hidup bukan hanya dalam sejarah, tetapi juga dalam adat, simbol kehormatan, dan semangat perlawanan.
BACA JUGA:Salude: Alat Musik Tradisional Minahasa yang Mulai Terlupakan
Peran Pedang Bara dalam Tradisi Adat
Dalam kehidupan masyarakat Sangihe, Pedang Bara memegang peranan penting dalam berbagai upacara adat. Senjata ini seringkali dihadirkan dalam momen sakral seperti pelantikan pemimpin adat, prosesi pernikahan tradisional, hingga upacara keagamaan lokal.
Ornamen dan bentuk pedang dirancang dengan penuh makna. Warna logam, ukiran pada gagangnya, serta motif pada sarungnya menggambarkan nilai-nilai seperti ketulusan, keteguhan hati, dan keberanian melindungi keluarga dan tanah leluhur.
Oleh karena itu, pedang ini tidak sekadar senjata, tapi juga lambang etika hidup masyarakat Sangihe.
BACA JUGA:Tradisi Sekura: Kegembiraan Lebaran dalam Balutan Topeng dari Lampung Barat
Hengkeng U Nang: Sosok Pejuang dan Pedang Legendaris
Salah satu tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Pedang Bara adalah Hengkeng U Nang, seorang pejuang legendaris dari Sangihe. Ia dikenal karena keberaniannya dalam menghadapi kekuatan kolonial pada masa lalu. Dalam perjuangannya membela tanah kelahiran, Pedang Bara menjadi senjata andalannya.
Hengkeng U Nang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas dalam menyusun siasat perlawanan. Keberhasilannya dalam memimpin perlawanan rakyat menjadi bukti bahwa perjuangan dan semangat pantang menyerah adalah warisan berharga dari leluhur.
Pedang yang digunakannya kini menjadi simbol perlawanan dan kecintaan pada tanah air yang terus dikenang oleh masyarakat hingga saat ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
