Ke depan, pengembangan penerbangan internasional dari Bandara Radin Inten II tidak hanya berhenti pada rute Kuala Lumpur.
Pemerintah daerah juga menyiapkan penerbangan langsung umrah pasca Idul Adha dengan dua opsi rute, yakni Lampung–Jeddah direct serta Lampung–Jeddah via Kuala Lumpur.
Untuk kesiapan infrastruktur, Bambang memastikan landasan pacu masih mampu melayani pesawat berbadan sempit (narrow body).
BACA JUGA:Infrastruktur Ujian Disiplin Fiskal & Keberpihakan
Namun, untuk operasional pesawat berbadan lebar (wide body) yang dibutuhkan dalam penerbangan haji, diperlukan peningkatan fasilitas.
Ia mengungkapkan bahwa Menteri Perhubungan telah meminta pengajuan kepada pihak pengelola bandara, PT Angkasa Pura Indonesia, agar berinvestasi dalam pengembangan landasan pacu guna mendukung operasional haji.
“Untuk narrow body masih memadai, tetapi untuk wide body perlu pengembangan. Surat pengajuan investasi sudah diminta agar landasan bisa diperpanjang sehingga mendukung penerbangan haji,” katanya.
Dengan berbagai persiapan tersebut, Pemprov Lampung berharap status embarkasi haji antara yang telah disandang selama 15 tahun dapat meningkat menjadi embarkasi penuh.
BACA JUGA:Ketua DPRD Lampung Dukung Way Kambas Jadi Model Nasional
Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Bandara Radin Inten II sebagai gerbang internasional di wilayah Sumatera bagian selatan.
Sebelumnya, Pemprov Lampung resmi membuka kembali layanan internasional melalui penerbangan perdana rute Lampung–Kuala Lumpur pada 12 Februari 2026. Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela.
Menurut Jihan, pembukaan rute Kuala Lumpur menjadi simbol kebangkitan Bandara Radin Inten II setelah sempat tidak melayani penerbangan luar negeri. Malaysia dipilih sebagai tujuan perdana karena memiliki potensi penumpang besar dari Lampung, baik untuk perjalanan bisnis, wisata, maupun ibadah umrah.
Setiap tahun, sekitar 24.000 jemaah umrah asal Lampung masih harus terbang melalui Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi. Selain itu, terdapat sekitar 8.000 hingga 8.600 pekerja migran asal Lampung yang bekerja di Malaysia.
BACA JUGA:Simulasi KUR BRI 2026 Pinjaman Rp200–250 Juta: Bunga 6 Persen, Ini Rincian Cicilan dan Syaratnya
Jika seluruh pekerja migran tersebut memanfaatkan penerbangan langsung, potensi penghematan biaya diperkirakan mencapai Rp16 miliar per tahun, dengan asumsi efisiensi rata-rata Rp2 juta per orang untuk perjalanan pulang-pergi.