Meski tumbuh pesat, dunia freelance bukan tanpa masalah. Ketiadaan jaminan sosial, penghasilan yang fluktuatif, hingga minimnya perlindungan hukum masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak freelancer bekerja tanpa kontrak yang jelas dan rentan terhadap praktik kerja tidak adil.
Selain itu, tidak semua orang memiliki akses dan literasi digital yang memadai. Tanpa dukungan kebijakan yang tepat, freelance berisiko menjadi solusi individual semata, bukan solusi struktural terhadap pengangguran.
Melihat tren ini, negara seharusnya hadir bukan dengan membatasi, tetapi mengakui dan melindungi ekosistem freelance.
Regulasi yang adaptif, pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan pasar, serta akses jaminan sosial bagi pekerja lepas menjadi langkah penting agar freelance tidak berkembang dalam ruang abu-abu.
BACA JUGA:Uang Tak Lagi Datang dari Absensi, Tapi dari Skill dan Portofolio
Freelance adalah sinyal bahwa dunia kerja sedang berubah. Ketika lapangan kerja formal menyempit, masyarakat menciptakan jalannya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi apakah freelance akan terus tumbuh, melainkan apakah negara dan sistem siap mengikuti perubahan itu.