UMR Stagnan, Kreativitas Bergerak: Cerita di Balik Ledakan Freelancer

UMR Stagnan, Kreativitas Bergerak: Cerita di Balik Ledakan Freelancer

Dari stabilitas palsu menuju kerja fleksibel berbasis keahlian.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Ketika Upah Minimum Regional (UMR) berjalan di tempat, kreativitas justru bergerak ke arah yang tak terduga.

Di tengah tekanan biaya hidup yang terus menanjak, semakin banyak pekerja khususnya generasi muda memilih keluar dari jalur kerja konvensional dan menapaki jalan freelance.

Fenomena ini bukan sekadar tren musiman. Ia lahir dari ketimpangan nyata antara kebutuhan hidup dan pendapatan tetap yang tak lagi mampu mengimbangi laju inflasi.

UMR yang stagnan membuat banyak pekerja sadar bahwa stabilitas kerja tidak selalu identik dengan stabilitas ekonomi.

BACA JUGA:Ketika Stabilitas Kerja Mulai Retak, Freelance Muncul Sebagai Jawaban

Di sinilah freelance menemukan momentumnya. Bekerja lepas bukan lagi dipandang sebagai opsi darurat, melainkan strategi sadar untuk bertahan, bahkan berkembang, di tengah ketidakpastian ekonomi.

Selama bertahun-tahun, pekerjaan tetap dianggap sebagai simbol keamanan. Gaji bulanan, jam kerja jelas, dan status karyawan memberi rasa aman psikologis.

Namun realitas hari ini menunjukkan sisi lain. Kenaikan UMR yang minim sering kali kalah cepat dibanding kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya sewa, transportasi, hingga pendidikan.

Banyak pekerja menyadari bahwa bekerja penuh waktu tidak otomatis membuat hidup lebih layak. Dari titik inilah muncul pertanyaan besar: jika waktu dan tenaga sudah habis untuk kantor, tapi kesejahteraan tetap jauh, apa yang sebenarnya dipertahankan?

BACA JUGA:Uang Tak Lagi Datang dari Absensi, Tapi dari Skill dan Portofolio

Freelance menawarkan sesuatu yang tidak diberikan oleh sistem kerja konvensional: kendali atas nilai diri.

Seorang desainer, penulis, editor video, hingga pengelola media sosial kini bisa menentukan tarif berdasarkan keahlian, bukan sekadar ijazah atau masa kerja.

Platform digital mempercepat perubahan ini. Pasar kerja menjadi lebih terbuka, lintas kota bahkan lintas negara.

Seorang freelancer di daerah kini bisa bersaing di pasar global, sesuatu yang nyaris mustahil terjadi satu dekade lalu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: