Namun, tantangan tetap ada. Tidak semua orang siap bertransformasi. Sistem pendidikan dan dunia kerja masih sering terjebak pada pola lama: menilai kepatuhan lebih tinggi daripada gagasan, menekankan hasil instan dibanding proses berpikir.
Padahal, di era mesin, yang dibutuhkan bukan manusia yang patuh, tetapi manusia yang reflektif dan berani berbeda.
Kreativitas juga bukan bakat eksklusif segelintir orang. Ia bisa dilatih, diasah, dan dikembangkan. Dengan membuka ruang eksplorasi, memberi kebebasan berekspresi, dan menghargai kegagalan sebagai bagian dari proses, kreativitas tumbuh menjadi kekuatan kolektif.
Saat mesin masuk dunia kerja, manusia tidak sedang kalah. Ia sedang diuji. Bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling bermakna.
BACA JUGA:Dari Takut PHK ke Berani Freelance, Cara Anak Muda Menyelamatkan Diri
Di tengah deru algoritma dan otomatisasi, kreativitas menjadi pembeda terakhir—dan mungkin yang paling menentukan—tentang siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan tergantikan.