MEDIALAMPUNG.CO.ID - Bagi banyak pekerja kreatif, sistem kerja konvensional perlahan kehilangan relevansinya.
Jam kerja kaku, target yang sering tak masuk akal, serta standar produktivitas yang mengabaikan kesehatan mental membuat pekerjaan terasa lebih seperti rutinitas melelahkan daripada ruang bertumbuh.
Di tengah tekanan biaya hidup yang terus naik dan kepastian karier yang makin rapuh, muncul kesadaran baru bahwa stabilitas yang dijanjikan sistem lama sering kali bersifat semu.
Di titik inilah freelance kreatif hadir bukan sekadar sebagai alternatif kerja, melainkan sebagai bentuk keberanian untuk berkata cukup pada sistem yang tak lagi manusiawi.
BACA JUGA:Desainer Lepas di Tengah Selera Klien yang Terus Berubah
Menjadi freelancer kreatif bukan berarti menolak kerja keras. Justru sebaliknya, dunia freelance menuntut disiplin tinggi, kemampuan mengelola waktu, hingga kecakapan menjaga kualitas karya di tengah ketidakpastian pendapatan. Namun yang membedakan, freelancer memiliki kendali lebih besar atas hidupnya sendiri.
Desainer, penulis, ilustrator, videografer, hingga social media specialist memilih jalur ini karena ingin bekerja dengan kesadaran, bukan sekadar menggugurkan kewajiban absen. Mereka ingin dihargai berdasarkan hasil, bukan lamanya duduk di kursi kantor.
Keputusan meninggalkan sistem kerja lama sering kali dipandang sebagai langkah nekat. Stigma tentang freelance yang dianggap tidak stabil masih kuat di masyarakat.
Namun realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Banyak pekerja kreatif justru menemukan penghasilan lebih adil, ruang belajar lebih luas, dan kesempatan kolaborasi lintas kota bahkan negara.
BACA JUGA:Ketika Pekerjaan Tak Lagi Soal Kursi dan Jam Absen
Menolak sistem lama bukan berarti anti institusi, melainkan kritik terhadap pola kerja yang tidak adaptif terhadap perubahan zaman.
Dunia kreatif bergerak cepat, dan sistem yang terlalu kaku justru kerap menjadi penghambat inovasi.
Perkembangan ekonomi digital mempercepat lahirnya ekosistem freelance kreatif. Platform digital, media sosial, hingga pasar global memungkinkan karya lokal bersaing di level internasional.
Anak muda tak lagi harus menunggu peluang dari satu perusahaan, karena peluang bisa diciptakan sendiri.
BACA JUGA:Dari Surat PHK ke Invoice Proyek, Perjalanan Sunyi Pekerja Kreatif