Ilustrator Freelance dan Realita Menghargai Karya Kreatif

Ilustrator Freelance dan Realita Menghargai Karya Kreatif

Industri kreatif tumbuh, tapi apakah karya ilustrator sudah dihargai secara layak?--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Di tengah ledakan ekonomi kreatif dan industri digital yang terus tumbuh, profesi ilustrator lepas semakin mendapat ruang.

Karya visual hadir di mana-mana, mulai dari media sosial, kemasan produk, iklan digital, hingga konten kampanye.

Namun di balik visual yang menarik itu, terdapat perjuangan panjang para ilustrator lepas dalam memperjuangkan satu hal mendasar: penghargaan terhadap karya.

Bekerja sebagai ilustrator lepas kerap dipersepsikan fleksibel dan menyenangkan. Tidak terikat kantor, bebas menentukan jam kerja, dan bisa berkarya dari mana saja.

BACA JUGA:Desainer Lepas di Tengah Selera Klien yang Terus Berubah

Namun realitasnya, fleksibilitas tersebut sering dibayar dengan ketidakpastian, terutama soal nilai karya yang kerap disepelekan.

Banyak ilustrator lepas menghadapi situasi di mana karya visual dipandang hanya sebagai “gambar”, bukan hasil dari proses kreatif yang panjang.

Mulai dari riset konsep, eksplorasi gaya, revisi berulang, hingga penyempurnaan detail, seluruh proses itu sering kali tidak terlihat oleh klien.

Tidak jarang, ilustrator menerima penawaran kerja dengan imbalan yang jauh dari layak. Ada pula permintaan revisi tanpa batas, penggunaan karya di luar kesepakatan awal, hingga praktik mengambil karya tanpa izin. Semua ini menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi para ilustrator lepas.

BACA JUGA:Ketika Pekerjaan Tak Lagi Soal Kursi dan Jam Absen

Banyak ilustrator memulai karier dari kecintaan terhadap menggambar. Namun ketika hobi berubah menjadi profesi, passion saja tidak cukup.

Ilustrator lepas dituntut untuk bersikap profesional, termasuk dalam menentukan tarif, membuat perjanjian kerja, serta melindungi hak cipta atas karya mereka.

Sayangnya, posisi tawar ilustrator sering kali lemah, terutama bagi mereka yang masih di tahap awal karier.

Demi mendapatkan portofolio atau menjaga relasi, tidak sedikit ilustrator yang terpaksa menerima proyek dengan bayaran minim. Kondisi ini perlahan membentuk standar yang keliru di industri kreatif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: