Dalam perjalanan sejarah seni, piramida telah hadir dalam berbagai gaya dan pendekatan.
Pada masa Mesir Kuno, piramida banyak digambarkan melalui relief dan lukisan dinding di kuil serta makam.
Karya-karya tersebut tidak semata bertujuan estetis, melainkan sarat fungsi religius dan simbolis.
Adegan ritual keagamaan, prosesi pemakaman, serta gambaran kekuasaan firaun menjadi tema utama yang menempatkan piramida sebagai pusat kosmologi dan spiritualitas.
BACA JUGA:Kerugian Musibah Kebakaran di Canggu Capai Rp300 Juta, 1 Rumah Ludes, Dua Terdampak
Memasuki era Renaissance di Eropa, ketertarikan terhadap peradaban kuno kembali menguat.
Piramida Mesir mulai muncul dalam lukisan dengan pendekatan yang lebih realistis dan penggunaan perspektif yang matang.
Seniman pada masa ini memandang piramida sebagai simbol kebijaksanaan kuno dan misteri peradaban masa lampau.
Dalam banyak karya, piramida dipadukan dengan lanskap luas, figur manusia, atau unsur mitologi yang mencerminkan rasa kagum dan rasa ingin tahu terhadap budaya Mesir.
BACA JUGA:BPBD Bandar Lampung Imbau Warga Waspadai Cuaca Ekstrem Hingga April
Pada era modern dan kontemporer, lukisan piramida berkembang lebih bebas dan tidak terikat gaya tertentu.
Seniman mengekspresikan piramida melalui berbagai aliran, mulai dari realisme, impresionisme, hingga abstrak dan surealisme.
Ada yang menampilkan detail arsitektur secara presisi, ada pula yang mengolah bentuk piramida menjadi simbol metaforis untuk menyampaikan pesan filosofis, kritik sosial, atau refleksi spiritual tentang kehidupan manusia.
Makna simbolik menjadi elemen penting dalam lukisan piramida. Bentuk segitiga piramida kerap dikaitkan dengan keseimbangan, kekuatan, dan kesempurnaan.
BACA JUGA:Produksi Padi Lampung Naik, DPRD Targetkan Tembus 20 Persen di 2026
Dalam konteks spiritual, piramida melambangkan hubungan antara dunia bawah, dunia manusia, dan dunia ilahi.