“Jumlah penduduk Provinsi Lampung hampir sembilan juta jiwa, dan sekitar 60 persen di antaranya merupakan masyarakat Jawa, khususnya dari Jawa Tengah. Ini menunjukkan adanya ikatan historis yang sangat kuat,” kata Ahmad Luthfi.
Ia menjelaskan, migrasi masyarakat Jawa ke Lampung telah berlangsung sejak sebelum kemerdekaan hingga program transmigrasi pada era 1970-an.
Para perantau tersebut, lanjutnya, telah menyatu dan membangun Lampung sebagai rumah mereka sendiri.
“Mereka tidak lagi memiliki komitmen untuk kembali ke daerah asal karena telah membangun desa, ekonomi, dan kehidupan di Lampung. Ini adalah kebanggaan kita bersama serta wujud nyata kebinekaan Indonesia yang harus terus dijaga,” ujarnya.
BACA JUGA:Dana Desa 2026 di Lampung Barat Anjlok Rp73 Miliar, Teknis Penyaluran Tunggu PMK
Gubernur Ahmad Luthfi juga berpesan agar masyarakat perantau tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal di daerah tempat tinggalnya.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya yakin masyarakat Jawa di Lampung sangat adaptif, kompetitif, dan mampu hidup rukun bersama seluruh suku,” tambahnya.
Kegiatan sarasehan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Acara tersebut dihadiri tokoh masyarakat, perangkat desa, serta warga perantau dan keturunan Jawa Tengah yang bermukim di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.