Selain itu, strategi produsen yang rajin merilis model baru membuat pasar semakin jenuh. Beberapa merek, seperti McLaren, mengalami depresiasi signifikan pada model-model tertentu akibat banyaknya varian yang saling bersaing.
Unit dengan jarak tempuh tinggi menjadi yang paling cepat turun nilainya karena dianggap berisiko tinggi dari sisi perawatan.
Meski demikian, tidak semua supercar bernasib sama. Model edisi terbatas dengan jumlah produksi sangat minim justru bisa menjadi aset yang nilainya melesat di pasar kolektor.
Kuncinya adalah kelangkaan yang membuat permintaan jauh melebihi pasokan. Fenomena ini umum terjadi pada supercar klasik, namun beberapa model modern juga mengalami hal serupa.
BACA JUGA:Bea Cukai Lampung Gagalkan Pengiriman 1,1 Juta Batang Rokok Ilegal di Pelabuhan Bakauheni
Contohnya, Porsche 911 S/T edisi terbatas yang awalnya dijual seharga US$ 291.650 kini dibanderol di pasar sekunder antara US$ 623.000 hingga US$ 800.000.
Pendahulunya, Porsche 911R, yang diluncurkan dengan harga US$ 185.950, kini laris di atas setengah juta dolar.
Ferrari LaFerrari, supercar top-spec edisi terbatas yang dirilis pada 2013 dengan harga sekitar US$ 1,3 juta, kini mencapai kisaran US$ 3,3 juta di pasar bekas.
Selain itu ternyata pembalap McLaren F1 pada 1992 yang dihargai sekitar US$ 640.000, pernah mencetak rekor penjualan lebih dari US$ 20 juta.
BACA JUGA:Konsumen AS Berburu Mobil Listrik Sebelum Insentif Pajak Dihapus
Kesimpulannya, kepemilikan supercar jarang menjadi langkah investasi yang aman jika dilihat dari sudut pandang finansial murni.
Namun, untuk unit-unit tertentu yang langka dan ikonik, justru ada peluang nilai jual kembali yang melampaui harga barunya.
Bagi kolektor, rahasianya ada pada memilih model yang tepat di waktu yang tepat. (*)