Nilai Jual Supercar Cepat Anjlok, Ini Alasan dan Pengecualiannya

Nilai Jual Supercar Cepat Anjlok, Ini Alasan dan Pengecualiannya

Bintang sepak bola Cristiano Ronaldo memamerkan koleksi supercar terbarunya yakni Ferrari Purosangue.//Foto: Instagram @cristiano--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Membeli supercar memang memberikan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. 

Mesin bertenaga, desain memukau, dan status prestisius membuatnya menjadi simbol gaya hidup kelas atas. 

Namun, dari sisi keuangan, kepemilikan supercar kerap bukanlah langkah investasi yang menguntungkan. 

Nilai jual kembali mobil-mobil ini justru cenderung merosot drastis dalam hitungan tahun, bahkan bisa sebanding dengan depresiasi mobil penumpang biasa.

BACA JUGA:Disdikbud Pastikan Video Viral Siswa SD Dimarahi Guru Bukan di Bandar Lampung

Sebuah analisis pasar menunjukkan beberapa faktor utama yang membuat harga supercar bekas cepat turun. 

Pertama, pembelian supercar sering kali dipicu oleh emosi dan hasrat, bukan perhitungan finansial jangka panjang. 

Kedua, biaya perawatan yang sangat tinggi membuat sebagian calon pembeli enggan mengambil risiko. Ketiga, siklus pembaruan model yang cepat membuat desain dan teknologi sebuah supercar terasa “tua” hanya dalam beberapa tahun.

Keempat, pasar mobil bekas untuk segmen ini relatif kecil, terutama untuk unit dengan jarak tempuh tinggi yang dinilai lebih rentan terhadap kerusakan.

BACA JUGA:Tantang Bugatti dan Ferrari, BYD Luncurkan Hypercar Listrik Yangwang U9 Track Edition

Ternyata berdasarkan hasil Riset depresiasi supercar modern yang dilakukan Hagerty menunjukkan rata-rata penurunan nilai sekitar 6% di tahun pertama kepemilikan dan hingga 20% setelah tiga tahun.

Bahkan untuk merk-merk legendaris seperti Lamborghini, Ferrari dan Porsche, bahkan seperti Lamborghini Aventador bisa kehilangan nilai hingga 16% dalam tiga tahun, sementara Porsche GT2 RS merosot sampai 30%.

Kasus Aventador menjadi contoh nyata. Meski tergolong ikonik di jajaran supercar V12 Lamborghini, nilainya mulai menurun setelah hadirnya Lamborghini Revuelto yang menawarkan teknologi dan performa lebih modern. 

Demikian pula, fenomena “flipping” atau jual-beli cepat juga memengaruhi harga pasar, khususnya pada model edisi khusus seperti Porsche GT yang biasanya dibanderol tinggi saat baru rilis, lalu anjlok ketika hype mereda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: