Puncak Perayaan: Prosesi dan Pembakaran
Acara puncak dimulai dengan sembahyang di klenteng. Warga membawa persembahan—buah, kue, dan lilin—serta menyalakan dupa sebagai ungkapan syukur. Setelah itu, tongkang diarak dari klenteng menuju lokasi pembakaran.
Prosesi arak-arakan berlangsung meriah. Dentuman genderang, tarian barongsai, dan iring-iringan masyarakat menciptakan suasana yang memukau. Anak-anak, orang dewasa, hingga para tetua berjalan bersama, membentuk gelombang manusia yang mengiringi kapal menuju tempat terakhirnya.
Sesampainya di lokasi, kapal diletakkan di tengah lapangan yang sudah dipersiapkan. Api kemudian dinyalakan di bagian bawah, menjalar cepat ke seluruh badan kapal. Asap membumbung ke langit, diiringi sorakan dan doa yang dipanjatkan bersama. Bagi masyarakat, momen ini adalah tanda pelepasan masa lalu sekaligus pengharapan akan masa depan yang penuh berkah.
BACA JUGA:ASN Bappeda Lampung Barat yang Hilang Ditemukan, Kini dalam Perjalanan Pulang
Makna Filosofis dan Nilai yang Dijaga
Ritual ini menyampaikan pesan bahwa dalam hidup, terkadang kita harus meninggalkan masa lalu untuk melangkah maju. Membakar kapal berarti memutus jalan kembali, memaksa diri menghadapi tantangan di depan dengan penuh keberanian.
Bakar Tongkang juga menjadi wujud penghormatan kepada leluhur yang telah berjuang keras demi generasi penerus.
Kebersamaan yang terjalin selama persiapan hingga pelaksanaan mencerminkan nilai gotong royong yang kuat.
BACA JUGA:Mirza Buka Turnamen Catur SMANDA CUP 2025 Piala Gubernur
Daya Tarik Wisata Budaya
Dalam beberapa dekade terakhir, Bakar Tongkang berkembang menjadi salah satu festival budaya terbesar di Riau. Ribuan wisatawan lokal dan mancanegara hadir setiap tahun, mengabadikan momen langka ini.
Kehadiran wisatawan memberi dampak positif pada ekonomi lokal—mulai dari hotel, rumah makan, hingga pedagang suvenir.
Pemerintah daerah menjadikan festival ini sebagai agenda budaya unggulan. Dengan promosi yang tepat, Bagansiapiapi semakin dikenal luas sebagai destinasi wisata budaya yang unik di Indonesia.
BACA JUGA:Dinas Kesehatan Perkuat Posyandu Lewat Pelatihan Digital 25 Keterampilan Dasar Kader
Upaya Pelestarian di Era Modern