Kini, Guinn dan Bogue bekerja sama dalam proyek internasional bernama AVUELO (Airborne Validation Unified Experiment Land to Ocean) yang didanai oleh NASA dan Smithsonian Institution.
Masalah utama yang dihadapi para ilmuwan adalah terbatasnya kemampuan satelit seperti Orbiting Carbon Observatory 2 milik NASA dalam mendeteksi CO₂ dalam jumlah kecil.
Karena itu, mereka mulai mencari indikator tidak langsung, seperti perubahan vegetasi, yang bisa memberi petunjuk awal sebelum gunung meletus.
“Kami butuh cara mendeteksi aktivitas kecil sekalipun. Pohon bisa jadi jawabannya,” ujar Bogue.
BACA JUGA:Apakah Musik Klasik Bisa Membuat Bayi Lebih Cerdas? Simak Penjelasan Para Ahli
Studi ini bukan hanya berguna untuk deteksi letusan, tapi juga memperluas pemahaman kita tentang peran hutan dalam menyerap CO₂.
Efek CO₂ terhadap vegetasi bisa memberi wawasan baru soal cara kerja alam dalam mengurangi dampak perubahan iklim.
“Respon tumbuhan terhadap peningkatan CO₂ bisa jadi jendela masa depan bumi,” jelas Josh Fisher, ilmuwan iklim dari Chapman University yang ikut terlibat dalam proyek ini.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Remote Sensing of Environment dan membuka jalan bagi metode pemantauan bencana yang lebih aman, murah, dan ramah lingkungan.