Mereka menemukan bahwa mutasi pada gen Arhgap36 hanya terdapat pada individu yang berbulu jingga.
Penelitian ini kemudian diperluas hingga mencakup hampir 50 kucing lainnya, dan hasilnya tetap konsisten: pola mutasi tersebut hanya muncul pada kucing dengan warna bulu oranye.
Para ilmuwan meyakini bahwa mutasi pada gen Arhgap36 kemungkinan telah muncul sejak awal domestikasi kucing.
Beberapa lukisan kuno yang menggambarkan kucing berbulu jingga menjadi petunjuk bahwa mutasi ini mungkin sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
BACA JUGA:Benarkah CIA Pernah Kontak dengan Alien Sejak 1959? Ini Isi Dokumen Kontroversialnya
Menariknya, tim dari Jepang berencana melanjutkan penelitian dengan menganalisis DNA dari mumi kucing Mesir kuno guna menelusuri asal-usul pasti dari gen warna jingga ini.
Penemuan ini tidak hanya menjawab rasa penasaran para pecinta kucing, tetapi juga menjadi terobosan penting dalam memahami genetika pewarnaan pada hewan peliharaan.