Lantai rumah biasanya dibuat dari batang bambu atau kayu kecil yang diikat menggunakan rotan, memberikan kesan tradisional dan alami.
Rumah ini biasanya dihuni oleh satu keluarga besar yang terdiri dari tiga generasi, mencerminkan ikatan keluarga yang erat dalam budaya Paser.
BACA JUGA:Arya Saloka dan Putri Anne Kompak Absen di Sidang Cerai Perdana, Agenda Mediasi Tertunda
5. Rumah Wahea
Rumah ini dimiliki oleh suku Dayak Wahea yang tinggal di kawasan pedalaman Kalimantan Timur.
Berbeda dengan rumah Dayak lain seperti Lamin atau Betang, rumah Wahea memiliki desain rumah panggung yang saling terhubung melalui jembatan dari kayu atau rotan.
Teknik penyambungan bangunan dilakukan tanpa menggunakan paku, melainkan memakai pasak kayu, yang membuat bangunan ini tahan terhadap guncangan.
Rumah-rumah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga digunakan untuk upacara adat dan kegiatan bersama.
BACA JUGA:Kilau Genetik Kucing Bengal: Gen ‘Glitter’ yang Memikat Dunia
Berbagai rumah adat di Kalimantan Timur memiliki kesamaan dalam beberapa aspek utama:
a. Material Bangunan Alami
Kebanyakan rumah adat dibangun dengan menggunakan kayu ulin, jenis kayu khas Kalimantan yang dikenal sangat kuat dan tahan lama, bahkan menjadi lebih kokoh jika sering terkena air. Ini membuat rumah-rumah tersebut sangat sesuai dengan kondisi geografis daerah yang banyak dialiri sungai dan rawa.
b. Struktur Rumah Panggung
Hampir seluruh rumah adat di Kalimantan Timur dibangun dengan struktur panggung. Ketinggian rumah bukan hanya untuk menghindari genangan air atau serangan binatang, tetapi juga diyakini dapat melindungi dari gangguan makhluk halus.
BACA JUGA:Diduga Alami Korsleting Listrik, Satu Unit Rumah di Kedaton Bandar Lampung Terbakar
c. Warna dan Ukiran Bermakna