Namun, teori ini memiliki kelemahan besar. Rotasi yang dibutuhkan agar Bumi bisa melemparkan bagian dari dirinya sendiri ke luar angkasa harus jauh lebih cepat dari yang mungkin terjadi dalam skenario pembentukan planet. Karena itulah, teori ini kini kurang mendapat dukungan dari para ilmuwan.
Teori Penangkapan (Capture Theory)
Teori ini berpendapat bahwa Bulan bukan berasal dari Bumi sama sekali. Sebaliknya, Bulan adalah objek yang berasal dari luar angkasa yang kebetulan melewati Bumi dan akhirnya tertangkap oleh gravitasi planet kita.
Hipotesis ini menjelaskan mengapa Bulan memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dari Bumi.
Sayangnya, teori ini juga memiliki banyak kelemahan. Jika Bulan adalah objek yang tertangkap oleh gravitasi Bumi, maka orbitnya seharusnya jauh lebih eksentrik dibandingkan orbitnya yang sekarang, yang hampir berbentuk lingkaran.
Selain itu, proses penangkapan benda sebesar Bulan tanpa menghancurkannya hampir tidak mungkin terjadi.
Teori Akresi Bersama (Co-Formation Theory)
Menurut teori ini, Bulan dan Bumi terbentuk secara bersamaan dari piringan debu dan gas yang sama di sekitar Matahari.
Artinya, Bulan adalah "saudara kandung" Bumi yang lahir dari material yang sama.
Namun, jika teori ini benar, maka komposisi Bulan seharusnya lebih mirip dengan seluruh Bumi, bukan hanya mantel bagian luarnya.
Kenyataannya, inti Bulan jauh lebih kecil dibandingkan inti Bumi, yang menunjukkan bahwa Bulan terbentuk dari material yang sudah terpisah sebelumnya.
Dari semua teori yang ada, Teori Tabrakan Raksasa adalah yang paling banyak diterima oleh para ilmuwan saat ini.
Bukti geologis dari sampel Bulan, simulasi komputer, dan pemodelan evolusi tata surya mendukung hipotesis ini sebagai penjelasan paling logis tentang asal-usul Bulan.