Dari Tak Punya Pegangan, Freelance Mengajarkan Arti Kendali Hidup
Dari krisis kerja hingga menemukan makna dan kendali hidup.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Di tengah dunia kerja yang makin cair, tak sedikit orang yang merasa kehilangan pegangan.
Jam kerja yang kaku, target yang terus menekan, serta kepastian karier yang kian rapuh membuat banyak pekerja terutama generasi muda mulai mempertanyakan satu hal mendasar: untuk siapa sebenarnya mereka bekerja.
Dulu, pekerjaan dipahami sebagai kursi tetap dan jam absen. Datang pagi, pulang sore, menerima gaji bulanan, lalu mengulang rutinitas yang sama.
Namun seiring perubahan zaman, konsep itu perlahan kehilangan relevansinya. Gelombang PHK, stagnasi upah, hingga hadirnya teknologi digital membuat rasa aman dalam sistem kerja lama tak lagi mutlak.
BACA JUGA:Saat AI Menguasai Segalanya, Sentuhan Manusia Justru Makin Bernilai
Banyak pekerja mengaku pernah berada di fase hidup tanpa pegangan. Bekerja keras, tetapi tetap merasa tak punya kendali atas arah hidup sendiri.
Keputusan penting sering kali ditentukan sistem, bukan individu. Bahkan soal waktu dan kesehatan mental pun kerap dikorbankan demi stabilitas yang ternyata semu.
Di titik inilah sebagian orang mulai mencari jalan lain. Bukan karena ingin terlihat bebas, melainkan karena ingin kembali memegang kendali. Pilihan itu sering kali jatuh pada dunia freelance dan kerja mandiri.
Bagi sebagian orang, freelance bukan sekadar profesi, melainkan fase transformasi. Dari yang semula menggantungkan hidup pada satu perusahaan, kini bertumpu pada keterampilan sendiri. Dari yang menunggu perintah, kini menentukan arah.
BACA JUGA:Freelance Kreatif dan Keberanian Menolak Sistem
Transisi ini tentu tidak instan. Ada masa ragu, ketidakpastian penghasilan, hingga tekanan untuk terus belajar.
Namun di balik itu, freelance menawarkan satu hal yang sulit ditemukan di sistem lama: kendali atas hidup sendiri.
Jam kerja menjadi lebih fleksibel, klien bisa dipilih, dan nilai kerja ditentukan oleh kualitas, bukan sekadar kehadiran.
Di sinilah banyak pekerja kreatif—penulis, desainer, ilustrator, videografer, hingga social media specialist—merasa kembali menemukan makna bekerja.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
