BUKU ini tipis sekali, tapi isinya tebal banget. Inilah buku yang langsung menguraikan inti pikiran penulisnya: Laksamana Sukardi. Anda sudah tahu: ia mantan menteri BUMN. Dua kali. Yang pertama tidak sampai enam bulan. Ia politikus hebat di saat yang sulit. Ia memilih bergabung ke Megawati saat putri Bung Karno itu dibenci Presiden Soeharto. Ia jadi salah satu pimpinan pusat PDI-Perjuangan. Anggota DPR. Dan masuk kelompok intelektual di partai itu.
Ia sudah menjadi banker terkemuka ketika masih sangat muda. Laksamana memang juga seorang pemikir. Idenya banyak. Buku yang pernah ditulisnya tebal-tebal. Saya sudah membacanya. Semuanya. Tapi saya belum pernah bertemu muka dengannya. Waktu saya menjabat menteri BUMN saya sering mengundang mantan menteri. Ia tidak pernah hadir. Dan kebiasaan Laksamana itu ternyata menular ke saya: tidak mau menghadiri undangan menteri BUMN setelah saya. Kalau buku Laksamana kali ini tipis sekali, ia memang punya maksud khusus: agar pembaca langsung bisa menangkap inti persoalan. Lalu bisa ikut mengubah keadaan. Rupanya Laksamana gemas banget. Kok negara ini sulit maju. Bahkan terdegradasi dua kali. Dulu kita lebih maju dari Tiongkok. Sekarang jarak kemajuannya antara langit dan sumur. Setelah itu kita masih disejajarkan dengan Korea Selatan dan Taiwan. Sebagai sama-sama macan kecil. Kini kita disejajarkan dengan Vietnam, Kamboja, Bangladesh. Masih dengan kemungkinan mereka akan meninggalkan kita. Mengapa? "Itu karena kita menganut Pancasalah," tulisnya di buku itu. Ia pun tanpa berliku-liku langsung membuat daftar lima salah itu. Satu: salah kaprah. Dua: salah lihat. Tiga: salah asuh. Empat: salah tafsir. Lima: salah tata kelola. Satu, dua, tiga, empat, baiknya Anda baca sendiri. Toh hanya beberapa halaman. Itu pun sudah dengan gambar dan karikatur. Saya sangat tertarik dengan Pancasalah kelima: salah tata kelola. Laksamana perlu menegaskan: 'salah tata kelola' berbeda dengan 'salah kelola'. Salah tata kelola, tulisnya, lebih destruktif daripada salah kelola. Padahal itulah yang terjadi di berbagai bidang kehidupan bernegara kita. Rupanya Laksamana sangat gelisah dengan ''penemuannya'' itu. Ia pikirkan dalam-dalam. Ia tuliskan dalam sebuah rumusan Pancasalah. Laksamana lantas menuangkan hasil terpenting renungannya: "salah tata kelola yang dikelola dengan baik hasilnya lebih membahayakan". Ia memberi contoh sederhana. Seorang ibu tiri punya anak kandung dan punya anak tiri. Dia tidak akan bisa adil kalau membagi satu pisang untuk dua anak itu. Maka sebaiknya Sang ibu jangan diberi tugas membagi pisang. Itulah tata kelola yang baik. Harusnya orang lain yang memotong pisang itu. Yang tidak ada kepentingan apa pun dengan dua anak itu. Kalau pun salah satu dari anak itu yang memotong pisang, anak satunya yang harus diberi hak memilih lebih dulu. Dengan demikian yang memotong pisang akan lebih hati-hati. Kalau memotongnya besar sebelah, maka potongan yang lebih besar akan diambil yang lebih dulu memilih. Maka yang memotong rugi sendiri. Itu juga disebut tata kelola yang baik. Tata kelola sebuah negara harus baik. Sehingga kalau ada penyelewengan dalam pengelolaannya bisa dikembalikan ke tata kelola yang baik. Maka kalau negara ini belum bisa maju harus dilihat tata kelolanya. Misalnya dalam hal demokrasi. Bagaimana bisa peraturan yang menyangkut partai, diputuskan sendiri oleh DPR yang dikendalikan oleh partai. Itu sama saja dengan ibu tiri yang membagi pisang: sang ibu yang memotong pisangnya, yang memilihkannya dan yang membagikannya. Tata kelola seperti itulah yang sekarang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Justru karena mengelolanya sungguh-sungguh maka tata kelola yang salah tadi salahnya menjadi sungguh-sungguh salah. Buku tipis itu akan diluncurkan ke publik tanggal 30 Agustus nanti. Saya diminta menjadi salah satu pembahasnya. Pembahas yang lain adalah Eros Djarot, Sang budayawan dan Yudi Latief yang juga mantan menteri. Dan peristiwa Duren Tiga adalah contoh lain salah tata kelola yang dikelola dengan sebaik-baiknya. Karena itu hasilnya, salahnya, juga luar biasa. (Dahlan Iskan) Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar di http://disway.id / . Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.Pancasalah Laksamana
Kamis 25-08-2022,04:15 WIB
Kategori :
Terkait
Rabu 10-12-2025,18:41 WIB
JMSI Usulkan Dahlan Iskan Raih Anugerah Dewan Pers 2025 Spirit Media Baru
Jumat 17-10-2025,09:14 WIB
Disway Awards 2025 Apresiasi 520 Brand Nasional Paling Kredibel
Rabu 13-08-2025,16:35 WIB
PKPU Ditolak, Dahlan Iskan Tempuh Gugatan Perdata dan Judicial Review
Rabu 30-07-2025,16:52 WIB
Drama Hukum Tabloid Nyata, Nany Widjaja dan Dahlan Iskan Ajukan Bukti Tambahan
Rabu 16-07-2025,18:32 WIB
Ketika Media Menggugat Dirinya Sendiri
Terpopuler
Selasa 13-01-2026,00:55 WIB
Plh Sekda Lampung Utara Jadi Tersangka Korupsi Dana Setwan Rp2,98 Miliar
Senin 12-01-2026,09:00 WIB
Tokoh Pemuda Sungkai Utara Soroti Aktivitas Perkebunan Sawit PT KAP
Senin 12-01-2026,20:38 WIB
MBG Dinilai Tak Layak Konsumsi, Kepala SDN 3 Sendang Sari Ngamuk
Senin 12-01-2026,20:17 WIB
Dana Rp32 Triliun Harus Berputar di Lampung, Gubernur Mirza Dorong Peran Bank Lampung
Senin 12-01-2026,18:14 WIB
7 Pejabat Eselon II Dilantik, Bupati Pesisir Barat Tekankan Pelayanan Nyata
Terkini
Selasa 13-01-2026,07:48 WIB
Freelance Desainer: Hidup dari Visual, Bertahan dari Revisi
Selasa 13-01-2026,07:09 WIB
Dari Konten ke Kehidupan, Jalan Freelance Content Creator
Selasa 13-01-2026,05:34 WIB
Manfaat Udang untuk Anak dan Efek Sampingnya yang Wajib Diketahui Orang Tua Sejak Dini
Selasa 13-01-2026,00:55 WIB
Plh Sekda Lampung Utara Jadi Tersangka Korupsi Dana Setwan Rp2,98 Miliar
Selasa 13-01-2026,00:37 WIB