DPRD Bandar Lampung Soroti Fenomena HIV dan Perilaku Berisiko di Kalangan Anak Muda
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, Muhammad Suhada--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Fenomena penyebaran HIV yang masih menjadi perhatian di wilayah Bandar Lampung mendapat sorotan dari legislatif.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, Muhammad Suhada, menilai persoalan ini perlu disikapi secara serius melalui pendekatan pencegahan, edukasi, dan penguatan peran keluarga serta institusi pendidikan.
Menurutnya, berbagai fenomena yang muncul terkait HIV dan perilaku berisiko kerap bersifat seperti gunung es.
Data yang terlihat di permukaan dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan, terutama di wilayah perkotaan dengan dinamika sosial yang kompleks.
BACA JUGA:Cuaca Ekstrem Landa Bandar Lampung, Polresta Keluarkan Imbauan Waspada
Suhada menilai momen Ramadan dapat dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan nilai moral, khususnya bagi generasi muda.
Ia menekankan pentingnya peringatan dini agar anak-anak muda tidak terjerumus dalam perilaku yang berpotensi membawa dampak kesehatan dan sosial.
“Jadi memang fenomena-fenomena yang terbaru ya, berkaitan dengan virus HIV, kemudian penyebarannya salah satunya lewat perilaku yang menyimpang. LGBT, Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Ini memang kalau mau digali, kayak apa ya, kayak fenomena gunung es, bisa jadi. Yang kelihatan berapa, tapi bisa jadi di balik itu juga banyak angka-angka yang belum kita ketahui,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi peringatan bersama agar masyarakat tidak lengah, terutama dalam membentengi generasi muda sejak dini melalui lingkungan sekolah dan keluarga.
BACA JUGA:Minim Lampu Jalan, DPRD Ingatkan Risiko Kecelakaan di PJR
Menanggapi pertanyaan terkait generasi Z, Suhada mengakui bahwa kelompok usia muda memiliki karakter dan pola komunikasi yang berbeda.
Oleh karena itu, pendekatan konvensional dinilai kurang efektif jika tidak dibarengi kreativitas dan inovasi.
“Iya, memang khusus anak Gen Z saya pikir dia punya ciri khas sendiri. Kita-kita ini yang pengen ngerangkul mereka memang harus punya cara sendiri,” katanya.
Ia menilai pendekatan dakwah dan pembinaan harus disesuaikan dengan dunia anak muda saat ini agar pesan yang disampaikan dapat diterima. Menurutnya, kreativitas menjadi kunci agar generasi Z merasa dilibatkan, bukan digurui.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
