Dedi Yuginta Ajak Warga Jadikan Puasa Sarana Refleksi dan Berbagi

Dedi Yuginta Ajak Warga Jadikan Puasa Sarana Refleksi dan Berbagi

Ramadhan bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga ruang memperkuat empati sosial dan toleransi antarumat.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung, Dedi Yuginta, mengajak masyarakat untuk memaknai ibadah puasa Ramadhan secara lebih luas.

Menurutnya, Ramadhan bukan semata kewajiban ritual, melainkan sarana nyata menghidupkan nilai-nilai Pancasila sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Dedi Yuginta dalam pertemuan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Ia menilai Ramadhan sebagai ruang refleksi diri untuk memperkuat kesabaran, keikhlasan, serta sikap saling menghormati di tengah masyarakat yang beragam latar belakang keyakinan.

BACA JUGA:Kapolresta Bandar Lampung Imbau Orang Tua Awasi Anak Selama Ramadan

Dedi Yuginta menegaskan bahwa ibadah puasa memiliki keterkaitan langsung dengan pengamalan sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia dibangun atas dasar keimanan, sehingga setiap pemeluk agama memiliki kewajiban menjalankan ajaran masing-masing.

“Jadi puasa ini adalah pengamalan sila pertama. Kita menunaikan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia pasti harus punya agama, dan bagi umat Islam, Ramadhan adalah momen menjalankan perintah tersebut,” ujar Dedi Yuginta dalam kegiatan Sosialisasi PIP-WK, Rabu 18 Februari 2026.

Menurutnya, menjalankan ibadah puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menata sikap dan perilaku agar sejalan dengan nilai luhur bangsa.

BACA JUGA:Semarak Imlek 2026 di Stasiun Tanjung karang, Atraksi Barongsai Hibur Pelanggan

Selain dimensi spiritual, Dedi Yuginta menilai puasa Ramadhan juga berkaitan erat dengan nilai kemanusiaan dan toleransi.

Hidup berdampingan di tengah perbedaan, kata dia, menuntut kesadaran untuk saling menghargai, khususnya pada momentum Ramadhan.

Ia mencontohkan sikap sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga perasaan tetangga dan tidak mempertontonkan kemewahan di tengah kondisi sosial yang belum merata.

“Kita saling menghargai dengan menganut agama masing-masing, toleransi. Yang puasa juga harus toleransi. Jangan kita masak, baunya sampai ke tetangga, tapi tetangga nggak punya makanan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: