Laptop, WiFi, dan Keberanian Menolak Jalan Lama
Opini tentang keberanian menentukan arah hidup di tengah era kerja fleksibel dan digital--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Laptop dan WiFi hari ini bukan sekadar perangkat kerja. Keduanya telah menjelma menjadi simbol perubahan cara manusia mencari nafkah, mengatur waktu, dan menentukan arah hidup.
Di balik layar yang menyala dan koneksi internet yang stabil, ada satu hal yang sering luput dibicarakan: keberanian untuk menolak jalan lama yang selama ini dianggap paling aman.
Selama puluhan tahun, definisi sukses dibangun di atas pola yang nyaris seragam. Bangun pagi, berangkat ke kantor, bekerja delapan jam, pulang saat matahari tenggelam, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya.
Pola ini diwariskan lintas generasi, ditanamkan sebagai satu-satunya rute menuju stabilitas dan pengakuan sosial.
BACA JUGA:Dunia Kerja Berubah Cepat, Anak Muda Menyesuaikan Diri
Namun dunia berubah. Teknologi bergerak lebih cepat daripada kebiasaan. Laptop memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja, sementara WiFi menghapus batas ruang yang dulu membelenggu.
Di titik inilah keberanian diuji. Bukan semua orang sanggup melangkah keluar dari jalur yang sudah ditata rapi oleh sistem.
Menolak jalan lama bukan berarti membenci stabilitas. Justru sebaliknya, ini tentang mendefinisikan ulang makna stabil itu sendiri.
Stabil bukan lagi soal kursi empuk di kantor, melainkan kemampuan bertahan hidup dengan keterampilan yang relevan. Stabil bukan soal jam kerja tetap, tetapi soal kendali atas waktu dan pilihan.
BACA JUGA:Freelance Kreatif dan Masa Depan Kerja yang Sedang Ditulis Ulang
Banyak yang ragu karena ketidakpastian. Freelance, kerja jarak jauh, atau membangun karier digital sering dicap berisiko. Pendapatan tidak tetap, masa depan dianggap abu-abu.
Padahal, ketidakpastian juga hadir di jalan lama. PHK massal, efisiensi perusahaan, dan otomatisasi membuktikan bahwa tak ada jalur yang benar-benar aman.
Laptop dan WiFi hanya alat. Yang membuat perubahan menjadi nyata adalah keberanian mengambil tanggung jawab penuh atas hidup sendiri.
Berani belajar tanpa disuruh, berani gagal tanpa jaminan, dan berani disalahpahami oleh mereka yang masih percaya bahwa sukses harus mengikuti satu cetakan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
