Ketika Algoritma Jadi Penentu Hidup Mati Konten Digital

Ketika Algoritma Jadi Penentu Hidup Mati Konten Digital

Antara idealisme dan algoritma, kreator berada di persimpangan sulit.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID -Di era digital hari ini, kualitas konten saja tak lagi cukup. Banyak kreator, jurnalis digital, hingga pekerja kreatif merasakan satu kenyataan pahit: nasib sebuah karya sering kali ditentukan oleh algoritma.

Bukan lagi soal seberapa dalam riset atau seberapa kuat pesan yang disampaikan, melainkan apakah konten tersebut “disukai” sistem platform digital.

Algoritma media sosial dan mesin pencari kini menjadi gerbang utama distribusi informasi. Ia bekerja senyap, tanpa wajah, namun memiliki kuasa besar menentukan siapa yang terlihat dan siapa yang tenggelam.

Konten yang viral bisa mengubah hidup seseorang dalam semalam, sementara karya berkualitas lain lenyap tanpa jejak hanya karena gagal menembus logika algoritmik.

BACA JUGA:Ketika Dunia Tak Menawarkan Kepastian, Karya Menciptakannya

Banyak kreator menyadari bahwa konten informatif, mendalam, dan bernilai sering kalah saing dengan konten sensasional.

Judul provokatif, visual mencolok, hingga narasi singkat yang memancing emosi lebih mudah mendapatkan jangkauan luas dibandingkan laporan panjang atau karya analitis.

Algoritma cenderung memprioritaskan durasi tonton, interaksi, serta kecepatan respons audiens.

Akibatnya, kreator terdorong menyesuaikan gaya produksi, bahkan mengorbankan idealisme, demi bertahan di arus distribusi digital yang kompetitif.

BACA JUGA:Saat Mesin Masuk Dunia Kerja, Kreativitas Jadi Pembeda

Jumlah tayangan, likes, dan engagement perlahan berubah menjadi tolok ukur harga diri. Banyak pekerja kreatif mengaku mengalami kelelahan mental karena terus mengejar performa algoritma.

Konsistensi tak lagi sekadar soal disiplin, melainkan tentang bertahan dari rasa cemas ketika konten tak mendapatkan respons.

Di titik ini, algoritma bukan hanya mengatur distribusi, tetapi juga memengaruhi ritme kerja, arah kreativitas, bahkan kesehatan mental para kreator.

Konten dibuat bukan lagi berdasarkan gagasan, melainkan prediksi: apa yang kemungkinan besar disukai mesin.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: