Deretan Truk dan Kendaraan Komersial CBU Masuk Indonesia, dari China hingga Eropa

Deretan Truk dan Kendaraan Komersial CBU Masuk Indonesia, dari China hingga Eropa

Kebijakan tarif impor sebesar 25 persen yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap mobil dan suku cadang impor memicu kekhawatiran global. //Foto: AP Photo/Martin Meissner.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Meski pasar kendaraan domestik tengah menghadapi tantangan, aktivitas impor kendaraan komersial dalam kondisi Completely Built Up (CBU) di Indonesia tetap berjalan cukup signifikan.

Data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, sejumlah merek dari berbagai negara — mulai dari China, Jepang, hingga Eropa — masih aktif memasok kendaraan niaga ke pasar nasional sepanjang semester pertama 2025.

Salah satu merek yang mendominasi impor kendaraan komersial adalah Toyota, melalui model Hi-Lux Rangga dalam berbagai varian. 

Berdasarkan catatan Gaikindo, periode Januari–Juni 2025 mencatat total 9.059 unit kendaraan CBU Toyota yang masuk ke Indonesia dengan distribusi sebagai berikut:

BACA JUGA:V2X dan Deteksi Blind Spot: Teknologi Penyelamat Nyawa Pengendara Motor

  • Januari: 1.198 unit
  • Februari: 1.735 unit
  • Maret: 1.823 unit
  • April: 1.552 unit
  • Mei: 1.404 unit
  • Juni: 1.347 unit

Selain Toyota, merek lain juga berkontribusi pada volume impor kendaraan komersial, di antaranya:

Mitsubishi (7.334 unit), FAW dari China (349 unit), Isuzu (121 unit), UD Trucks (247 unit), dan Hino (21 unit).

Tingginya angka ini mengindikasikan bahwa minat terhadap kendaraan niaga impor, terutama truk, masih cukup besar meski pasar dalam negeri belum sepenuhnya pulih.

BACA JUGA:Apakah Mobil Listrik Perlu Ganti Oli? Ini Penjelasan Lengkapnya

Di sisi lain, meskipun impor kendaraan komersial tetap stabil, penjualan di pasar domestik justru menurun. Menurut Gaikindo, kinerja sektor ini sangat dipengaruhi kondisi ekonomi nasional.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menegaskan bahwa permintaan truk dan kendaraan niaga biasanya sejalan dengan perkembangan sektor produktif seperti konstruksi, pertambangan, dan perkebunan.

“Kalau ekonomi menggeliat, tambang dan komoditas naik, proyek berjalan, maka sektor kendaraan komersial pun ikut bergerak. Tapi saat ini situasinya masih cukup berat,” ujar Kukuh.

Ia menambahkan, pemulihan sektor otomotif, termasuk kendaraan niaga, membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah yang stabil dan pro-investor. 

BACA JUGA:Hyundai Elexio OE1c Siap Meluncur di China, Tantang BYD dengan SUV Listrik Harga Terjangkau

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: