Tegal Alun Papandayan: Hamparan Edelweis di Atap Jawa Barat
Hamparan Edelweis, manjakan pendaki di Tegal Alun Papandayan / Foto -- instagram @gemilang28 -----
BACA JUGA:Menepi Sejenak di Pantai Mutun
Cuaca di ketinggian dapat berubah drastis, dan suhu bisa turun dengan cepat, terutama pada sore dan malam hari.
Berada di Tegal Alun memberi pengalaman yang lebih dari sekadar perjalanan fisik.
Lanskap terbuka yang luas, aroma tumbuhan pegunungan, serta suara alam yang tenang menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di tempat lain.
Banyak pendaki yang merasakan perasaan haru saat tiba di padang edelweis ini—sebuah kombinasi antara rasa syukur, takjub, dan kebahagiaan setelah melewati jalur pendakian yang menantang.
BACA JUGA:Pulau Tomia: Surga Tersembunyi di Jantung Wakatobi
Kabut yang kerap turun di siang hingga sore hari menambah nuansa dramatis kawasan ini.
Dalam sekejap, hamparan bunga bisa tertutup selimut kabut tipis, menciptakan suasana seperti negeri dongeng di atas awan.
Tegal Alun seakan mengajak setiap pendaki untuk merenung dan menghargai kesempurnaan ciptaan alam.
Sebagai habitat asli edelweis, Tegal Alun merupakan kawasan yang harus dilestarikan.
BACA JUGA:Menepi di Pulau Semak Daun: Sunyi yang Menyembuhkan
Sayangnya, masih ada pengunjung yang memetik bunga ini untuk dibawa pulang sebagai cendera mata, padahal tindakan tersebut dilarang dan termasuk pelanggaran hukum.
Edelweis adalah tanaman yang dilindungi, dan memetiknya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem yang sudah terbentuk secara alami selama bertahun-tahun.
Pengelola Gunung Papandayan telah menerapkan aturan ketat untuk menjaga kelestarian kawasan ini.
Pendaki dihimbau untuk tidak mengambil bunga, tidak membuang sampah sembarangan, serta hanya menggunakan jalur resmi yang telah disediakan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
