Ramadan
Pelantikan Kajari

Di Balik Kemeriahan Sekura, Ada Suara Perempuan yang Perlu Didengar

Di Balik Kemeriahan Sekura, Ada Suara Perempuan yang Perlu Didengar

ILUSTRASI: Tradisi Sekura di Lampung Barat menjadi ruang refleksi nilai budaya dan kemanusiaan.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID — Tradisi Sekura di Lampung Barat kembali menjadi ruang refleksi, bukan hanya tentang pelestarian budaya, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai kemanusiaan dijaga di dalamnya. Di tengah semarak perayaan setiap bulan Syawal, muncul kesadaran baru bahwa Sekura tidak cukup hanya dirawat sebagai tradisi, tetapi juga harus dipahami secara utuh, termasuk dalam memandang posisi perempuan.

Penulis dan pemerhati sosial Junaidi Jamsari melihat bahwa Sekura memiliki nilai historis dan kultural yang kuat. Tradisi ini telah menjadi simbol kebersamaan masyarakat, mempererat silaturahmi, serta memperkuat identitas lokal. Namun, ia menilai perkembangan zaman menuntut adanya penyesuaian dalam cara tradisi itu dijalankan.

Menurutnya, perempuan dalam setiap tradisi memiliki hak yang tidak bisa diabaikan. Mereka berhak dihormati martabatnya, dilindungi dari bentuk eksploitasi, serta diberi ruang untuk terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan budaya.

Ia menjelaskan, Sekura sejatinya mengandung nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan. Karena itu, setiap praktik dalam tradisi tersebut seharusnya mencerminkan nilai tersebut, bukan justru menimbulkan tafsir yang bertentangan.

Dalam pandangannya, penggunaan atribut atau simbol yang berpotensi menimbulkan kesan merendahkan perempuan perlu dikaji ulang. Ia menekankan bahwa tradisi tidak boleh menjadi ruang yang mengaburkan batas antara ekspresi budaya dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Junaidi juga mengingatkan bahwa secara historis, Sekura memiliki makna simbolik yang dalam. Penggunaan topeng dan atribut tertentu pada masa lalu bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari ritual dan nilai filosofis yang berkembang di masyarakat. Namun, tanpa pemahaman yang benar, makna tersebut bisa bergeser.

Ia menilai, pergeseran makna inilah yang perlu diantisipasi bersama. Tradisi harus tetap hidup, tetapi tidak boleh kehilangan ruhnya. Sekura harus tetap menjadi ruang kebersamaan yang aman dan nyaman bagi semua pihak, termasuk perempuan.

Lebih jauh, ia mendorong adanya peran aktif perempuan dalam menjaga dan mengarahkan perkembangan Sekura ke depan. Keterlibatan perempuan dinilai penting agar tradisi ini tetap relevan sekaligus adil.

Menurutnya, pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat perlu memperkuat edukasi budaya, sehingga generasi muda tidak hanya memahami bentuk luar Sekura, tetapi juga nilai yang terkandung di dalamnya.

Ia juga melihat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan perayaan, tetapi harus disertai dengan kesadaran kritis agar tidak terjadi penyimpangan makna.

Pada akhirnya, Junaidi menegaskan bahwa Sekura adalah kebanggaan masyarakat Lampung Barat yang harus dijaga bersama. Namun, menjaga tradisi tidak boleh mengorbankan nilai kemanusiaan.

Sekura akan tetap hidup jika mampu beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan prinsip dasar yang menghormati martabat setiap manusia. Dalam konteks ini, suara perempuan bukanlah ancaman bagi tradisi, melainkan bagian penting untuk menjaga agar tradisi tetap bermakna.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait