Tari Kabasaran: Warisan Ksatria Minahasa yang Penuh Semangat Juang

Tari Kabasaran: Warisan Ksatria Minahasa yang Penuh Semangat Juang

Tari Kabasaran bukan hanya milik masa lalu. Ia telah berevolusi menjadi simbol identitas dan kebanggaan daerah. - Foto: [email protected] --

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Tari Kabasaran merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Minahasa di Sulawesi Utara. 

Tarian tersebut dikenal sebagai representasi keberanian para leluhur Minahasa yang siap siaga membela tanahnya. Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Kabasaran menyimpan nilai historis dan spiritual yang dalam.

Pada masa lampau, masyarakat Minahasa sering menghadapi konflik antarsuku. Dalam situasi tersebut, para laki-laki yang kesehariannya bekerja sebagai petani atau penjaga kampung akan berubah menjadi prajurit jika terjadi serangan. 

Mereka disebut sebagai waranei, sosok pemberani yang menjaga kehormatan komunitas. Tari Kabasaran muncul sebagai simbol dari semangat juang mereka, dengan gerakan-gerakan yang menirukan pertempuran nyata.

BACA JUGA:Datang ke Polresta Bandar Lampung, Wamen PAN-RB Nilai Pelayanan SIM dan SKCK Berkualitas

Tarian ini hanya boleh dibawakan oleh keturunan keluarga penari Kabasaran terdahulu. Mereka mewarisi senjata tradisional di antaranya pedang serta  tombak yang digunakan dalam tarian, sekaligus menjadi pusaka keluarga. 

Gerakan dalam tarian tersebut menyerupai laga dua ayam jantan yang bertarung, menggambarkan keberanian dan kesiapan menghadapi musuh.

Kabasaran terdiri dari tiga bagian utama yang masing-masing memiliki makna serta karakteristik tersendiri. Bagian pertama adalah Cakalele, yang menggambarkan suasana pertempuran. 

Para penari bergerak cepat dan penuh tenaga, menebas dan menusuk secara simbolis dengan iringan alat musik pukul seperti gong dan tambur.

BACA JUGA:Marindo Lantik Dua Pejabat Eselon II Pemprov Lampung, Ini Pesannya

Bagian kedua bernama Kumoyak. Pada tahap ini, gerakan lebih berfokus pada ayunan senjata ke arah depan. 

Selain sebagai pertunjukan fisik, bagian ini menyampaikan pesan spiritual kepada roh-roh musuh yang telah gugur. Suasana tarian menjadi lebih khidmat serta mengandung makna magis.

Bagian ketiga disebut Lalaya’an. Berbeda dari dua bagian sebelumnya, di tahap ini penari menanggalkan kesan garang dan menampilkan gerakan yang lebih lembut. 

Mereka menari dengan senyum, meletakkan senjata, dan bergerak dalam posisi ringan sebagai simbol kedamaian setelah pertempuran berakhir. Gerakan lionda, yakni berdiri dengan satu kaki dan tangan di pinggang, menjadi ciri khas di bagian ini.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: