Penguatan Sistem Kesehatan: Langkah Strategis Eliminasi HIV 2030 di Indonesia

Penguatan Sistem Kesehatan: Langkah Strategis Eliminasi HIV 2030 di Indonesia

ilustrasi penyakit hiv.--Foto Dok---

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk mencapai eliminasi HIV pada tahun 2030. Salah satu strategi utamanya adalah penguatan sistem kesehatan, yang dinilai sangat krusial oleh Peneliti Muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mirna Widiyanti. 

Dalam sebuah webinar yang diadakan Jumat lalu, Mirna menyoroti berbagai aspek yang perlu diperbaiki guna mendukung target ambisius ini, termasuk peningkatan kapasitas laboratorium, distribusi obat yang merata, dan pemberdayaan tenaga kesehatan.

Penguatan sistem kesehatan menjadi fondasi penting dalam mencapai eliminasi HIV, yang didukung oleh strategi 95-95-95 dari UNAIDS. 

Strategi ini mengharapkan 95 persen orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui status mereka, 95 persen dari mereka mendapatkan terapi antiretroviral (ARV), dan 95 persen ODHIV yang mendapatkan ARV mengalami penurunan viral load. 

Namun, tantangan besar masih dihadapi, terutama dalam ketersediaan fasilitas dan distribusi obat.

Saat ini, Indonesia memiliki 301 fasilitas tes cepat molekuler dan 42 layanan pemeriksaan viral load. 

Namun, fasilitas untuk early infant diagnosis (EID) yang penting bagi bayi dari ibu dengan HIV hanya tersedia di empat lokasi: RS Dharmais Jakarta, RSHS Bandung, RSU Soetomo Surabaya, dan Balai Laboratorium Kesehatan Papua. 

Ketimpangan ini menjadi perhatian utama yang memerlukan solusi segera agar layanan bisa diakses secara merata di seluruh Indonesia.

Distribusi obat ARV juga menjadi poin krusial. Mirna menegaskan bahwa pemerataan distribusi obat harus dilakukan secara optimal agar semua fasilitas kesehatan, termasuk yang berada di daerah terpencil, dapat memenuhi kebutuhan pasien. 

Sebanyak 5.341 unit layanan PDP (perawatan, dukungan, dan pengobatan) telah tersedia, tetapi perluasan jumlah fasilitas ini sangat penting untuk mempercepat eliminasi HIV.

Tidak hanya itu, kapasitas laboratorium juga harus diperkuat, termasuk peningkatan alat untuk pemeriksaan resistensi genetik dan viral load. 

Dengan peningkatan infrastruktur ini, diagnosis dan pengobatan HIV dapat dilakukan secara lebih cepat dan akurat, meningkatkan efektivitas terapi ARV.

Penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah strategis lainnya. Pelatihan untuk mengelola resistensi obat dan penggunaan regimen terbaru ARV masih perlu dilakukan secara intensif. 

Sumber daya manusia yang terampil akan mampu mendukung program pengobatan dan perawatan bagi ODHIV secara optimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: